Pasang Banner disini

Hubungi kami segera untuk pasang banner anda disini

Boneka Peraga Gigi

Memiliki penghasilan tinggi di usia muda, bukan hal yang tidak mungkin. Misalnya Anggi Hayani, mahasiswi kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara mampu membuktikan hal itu

Bubur Sehat Buat Bayi

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Oleh sebab itu, mereka sangat menaruh perhatian tinggi terhadap asupan makanan bagi si buah hatinya. Apalagi, ketika anaknya masih berusia di bawah lima tahun (balita)..

Pasang Banner

Tertarik untuk memasang iklan di sini? Hubungi kami segera!

Mushroom factory

Bagi kebanyakan orang, lulus dari perguruan tinggi biasanya langsung memilih bekerja dan namun tak banyak yang langsung memilih berwirausaha. Adalah Cholis, sang sarjana kesehatan yang lebih memilih langsung berkecimpung ke dunia usaha..

Showing posts with label Bisnis Lisensi. Show all posts
Showing posts with label Bisnis Lisensi. Show all posts

Sunday, October 21, 2012

Pengusaha Muda 18 Tahun Hamzah Izzulhaq

Hamzah mulai menekuni bisnisnya secara serius ketika beranjak remaja dan duduk di bangku kelas 1 SMA. Ia berjualan pulsa dan buku sekolah setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta , 26 April 1993 ini melobi sang paman yang kebetulan bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi distributor dengan diskon sebesar 30% per buku. “Buku itu lalu saya jual ke teman-teman dan kakak kelas. Saya beri diskon untuk mereka 10%, sehingga saya mendapat 20% dari setiap buku yang berhasil terjual. Alhamdulillah, saya mengantongi nett profit pada saat itu mencapai Rp950 ribu/semester,” aku Hamzah kepada CiputraEntrepreneurship.com.

Uang jerih payah dari hasil penjualan pulsa dan keuntungan buku kemudian ditabungnya. Sebagian dipakai untuk membuka konter pulsa dimana bagian operasional diserahkan kepada teman SMP-nya sementara Hamzah hanya menaruh modal saja. Sayangnya, bisnis itu tak berjalan lancar. Omzet yang didapat sering kali dipakai tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi. Dengan kerugian yang diteriman, Hamzah akhirnya memutuskan untuk menutup usaha yang hanya berjalan selama kurang lebih 3 bulan itu. “Sampai sekarang etalase untuk menjual pulsa masih tersimpan di gudang rumah,” kenang Hamzah sambil tertawa.

Dengan menyimpan rasa kecewa, Hamzah berusaha bangkit. “Saya sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan bisnis. Terutama buku “ Ciputra Way ” dan “Quantum Leap”. Sehingga itu yang membuat saya bangkit ketika rugi berbisnis,” jelasnya. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah membeli alat mesin pin. Hal itu nekat dilakoninya karena ia melihat peluang usaha di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah acara seperti pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. Dari acara-acara di sekolah, ia menerima order yang cukup besar. Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan merugi lantaran tak menguasai teknik sehingga banyak produk orderan yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. “Ayah sedikit marah dengan kerugian yang saya buat itu,” lanjut Hamzah.


Dari kerugian itu, Hamzah merenung dan membaca biografi pengusaha sukses untuk menumbuhkan kembali semangatnya. Tak berapa lama, ia mulai berjualan snack di sekolah seperti roti, piza dan kue-kue. Profit yang terkumpul dari penjualan makanan ringan itu sebesar Rp5 juta. Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang,” terangnya.

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. “Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi,” kenang Hamzah.

Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.

Sejak bulan Agustus lalu, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia . Lulusan SMA tahun 2011 ini duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan. “Saat ini saya sedang mencicil perlahan-lahan modal yang saya pinjam 2 tahun lalu dari ayah. Alhamdulillaah, berkat motivasi dan Pak Ci saya sudah bisa ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri,” ujarnya.

Menurut Hamzah, dari pengalamannya, berbisnis di usia muda memiliki sejumlah tantangan plus kendala seperti misalnya diremehkan, tidak dipercaya dan lain sebagainya. Hal itu dianggapnya wajar. “Maklum saja, sebab di Indonesia , entrepreneur muda dibawah 20 tahun masih amat langka. Kalau di Amerika usia seperti saya ini mungkin hal yang sangat biasa,” tutupnya

ditulis oleh Ely
Link: Jejak Orang Sukses

Si Manis di Balik BonChon

Michelle E. Surjaputra. Itulah namanya. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, gadis muda nan manis ini sudah punya bisnis yang lumayan bagus: restoran cepat saji asal Korea , BonChon Chicken.

Inspirasi mengembangkan bisnis ini diperolehnya saat menempuh studi di Amerika Serikat. “Saat kuliah, setidaknya saya dua kali sebulan nongkrong di BonChon. Di New York ada sekitar tujuh gerai BonChon,” ujar kelahiran Jakarta 15 November 1988 yang lulusan New York University- Leonard N. Stern School of Business ini.

Namun, Michelle tak langsung membawa BonChon. Sekembalinya ke Indonesia , dia sempat magang di perusahaan ayahnya. Juga, pernah magang di AXA Advisory, Bank Indonesia dan UBS. Ide BonChon baru muncul saat mengunjungi mal-mal di Jakarta . “Saya pikir, kenapa tidak saya bawa BonChon ke Indonesia ? Apalagi, di Indonesia sedang tren yang serba Korea dan orang Indonesia suka makan ayam,” kata Michelle mengenang.

Awalnya, dia agak grogi berbisnis karena tak punya pengalaman sama sekali dengan waralaba. Lantas, mengapa tak bergabung dengan bisnis orang tua? “Bisnis orang tua bidang manufaktur metal. Itu bukan bidang saya. Saya lebih suka industri gaya hidup,” ungkapnya.

Mantap dengan pilihannya, dia pun mencoba memberanikan diri menulis minat bekerja sama yang dikirimkan ke pihak BonChon Chicken melalui website. Apa respons mereka? Rupanya, menurut GM-nya, BonChon sudah sering menerima tawaran permohonan master franchiseuntuk di Indonesia . “Tetapi, saya diberi kesempatan membuat business plan,” katanya. Beruntung, Michelle sangat terbiasa membuatbusiness plan, sehingga dia bisa membuat setebal 50 halaman hanya dalam tiga hari. “Mereka terkesan dengan proposal saya,” dia mengenang.

Akhirnya, segalanya berlangsung cepat dan seperti sebuah keajaiban. Begitulah kesan Michelle. Agustus 2011, dia memasukkan proposal, Oktober sudah diminta ikut pelatihan, bulan November keluar izin, dan di bulan Januari 2012 gerai pertama BonChon di Jakarta dia buka. Cukup cepat. Gerai pertama BonChon Chicken dibuka di Grand Indonesia di bawah naungan PT Michelindo Food International sebagai pemegang master franchise BonChon Chicken untuk Indonesia .

Setelah itu, Michelle bergerak cepat. Bersama kawan-kawannya yang bertindak sebagai investor, dia segera beraksi. “Saya dan beberapa teman. Tetapi, tak sampai lima orang,” katanya. Bermula dari Grand Indonesia, BonChon kini berjumlah tujuh gerai yang tersebar di mal-mal kelas atas seperti City Walk Sudirman, Living World Alam Sutera, Supermal Karawaci, Gandaria City, Central Park dan Kota Kasablanka. Setelah itu, akan segera menyusul gerai di Kemang Village dan Beachwalk Bali.

Menyasar segmen pelanggan kelas A dan B, Michelle menjelaskan, keunikan BonChon terletak pada kesegaran bahan makanannya, termasuk dapur. “Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam,” ujarnya penuh bangga.

Menurut Utomo Njoto, pengamat waralaba, kalau BonChon ingin kian membesar, akan lebih cocok bermain di segmen menengah ketimbang di segmen A. “Penetrasi mereka cukup cepat. Tidak mudah untuk secara konsisten buka satu gerai per bulan,” katanya. Namun untuk menjadi bisnis yang solid, Utomo menyarankan Michelle lebih memperkuat dari sisi organisasi dan tim, apalagi bila hendak menjalankan sub-franchising. “Butuh kemampuan sistem, infrastruktur organisasi dan pembiayaan,” ujar Utomo.

Saran Utomo sangat mengena. Bagi Michelle, tantangan terbesar untuk mengembangkan bisnisnya adalah bagaimana memastikan BonChon Indonesia bisa mengikuti standar BonChon internasional. Dia ingin menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChon terbaik di dunia. Untuk itulah, dia intens terlibat dalam operasional perusahaan. Dia selalu rapat setiap pagi di kantor dan setiap gerai dia datangi setidaknya dua kali dalam sebulan. Michelle berencana akan terus berekspansi dan setiap bulan membuka satu gerai baru.

ditulis oleh Sudarmadi/Denoan Rinaldi
Link: SWA

Shierly Kosasih sukses bergelut di bidang Dunia Lisensi

Meski awalnya merasa asing, Shierly Kosasih akhirnya menikmati bergelut di dunia lisensi karakter perusahaan film dan animasi besar seperti Warner Brothers. Bahkan, ibu muda berusia 30 tahun ini sekarang menjabat sebagai Manajer Senior Perlisensian di Pacific Licensing Studio (PLS), perusahaan internasional yang bermarkas di Singapura.
 
Selulus dari Kolej KDU University College Malaysia Jurusan Manajemen Katering dan Hotel, Shierly kembali ke Tanah Air dan mulai bekerja di perusahaan ritel Giordano. Barulah 6-7 tahun belakangan ini ia terjun ke industri perlisensian. Tugas pertama Shierly menangani lisensi karakter Nickelodeon, dan kini karakter Warner Brothers.
 
Di pekerjaannya, Shierly merasa lebih seperti polisi lisensi. Pasalnya, ia bertugas mencocokkan karakter tokoh yang dilisensikan dengan penggunaannya di lapangan. “Karena sebenarnya, at the end of the day, goal-nya adalah produk yang cantik di market,” tambah Shierly yang akan menangani produk WB berikutnya, trilogi The Hobbit, kelanjutan kisah The Lord of the Ring. The Hobbit akan tayang Desember 2012 hingga 2014.
 
Salah satu sukses besarnya, menurut dia, ketika berhasil mengembangkan area fast moving consumer goods (FMCG). Menurut Shierly, dari sisi FMCG, PLS berkembang sangat pesat. Dari hanya 1-2 lisensi, sekarang sudah mempunyai 8 lisensi. Impian Shierly adalah mengedukasi masyarakat agar menghargai Hak Kekayaan Intelektual dengan membeli produk asli. “Mungkin tidak seluruhnya, tapi paling tidak sebagian,” katanya tandas.
 
ditulis oleh Gustyanita Pratiwi/Eddy Dwinanto Iskandar
Link : SWA