Ewid mengisahkan, di tempat tinggalnya di Bontang, Kalimantan , warga cukup sulit menemukan sepatu dengan ukuran dan model khusus. "Jika kaki Anda nomor 42, akan sulit sekali mencari sepatunya," jelas Ewid.
Dari pengalaman hidupnya inilah, Ewid terilhami untuk menjadi pembuat sepatu custom, sesuai pesanan. Usahanya mulai dari sepatu wanita, anak muda, sepatu bola, sepatu futsal, sepatu proyek sampai sepatu yang digunakan untuk pagelaran busana (fashion show). "Jadi, kami mengerjakan semua dari mulai menerima jahitan, jual baju jadi, jual sepatu, sampai menerima pesanan sepatu. Pelanggan bisa memastikan pakaiannya seragam dari atas sampai bawah," ujarnya.
Walau tak ingat dengan modal awal yang disetorkannya, Ewid yakin nilainya tak terlalu besar. Bisnisnya ini hanya mengandalkan bahan yang tidak terlalu mahal, namun menghasilkan baju berkonsep mewah.
Sepatu dan baju yang dibuat oleh Ewid bukanlah produk yang bisa terlihat di pasar umum. Untuk bisa bersaing di pasar yang sudah penuh, Ewid harus tampil beda dengan memberikan ciri atau keunikan tersendiri.
Selain menawarkan keunikan, produk Ewid juga menjamin kekuatan. Diakui, untuk hal ini, masalah ketersediaan bahan baku di Bontang kerap menjadi kendala. “Di Bontang dan Kalimantan itu sulit untuk mencari bahan baku yang berkualitas,” jelas Ewid.
Untuk menutupi persoalan ini, Ewid pun memesan bahan baku seperti lem sepatu, bawahan sepatu, hak sepatu wanita, dan kulit.
Ketekunan dan keuletan yang dijalaninya selama ini telah membuahkan hasil yang cukup besar. Saat ini, omzet toko sepatu Ewid di Bontang telah mampu menghasilkan lebih dari Rp10 juta per bulan. (art)







