Pasang Banner disini

Hubungi kami segera untuk pasang banner anda disini

Boneka Peraga Gigi

Memiliki penghasilan tinggi di usia muda, bukan hal yang tidak mungkin. Misalnya Anggi Hayani, mahasiswi kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara mampu membuktikan hal itu

Bubur Sehat Buat Bayi

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Oleh sebab itu, mereka sangat menaruh perhatian tinggi terhadap asupan makanan bagi si buah hatinya. Apalagi, ketika anaknya masih berusia di bawah lima tahun (balita)..

Pasang Banner

Tertarik untuk memasang iklan di sini? Hubungi kami segera!

Mushroom factory

Bagi kebanyakan orang, lulus dari perguruan tinggi biasanya langsung memilih bekerja dan namun tak banyak yang langsung memilih berwirausaha. Adalah Cholis, sang sarjana kesehatan yang lebih memilih langsung berkecimpung ke dunia usaha..

Showing posts with label Bisnis Pakaian. Show all posts
Showing posts with label Bisnis Pakaian. Show all posts

Monday, October 22, 2012

Selphie Bong merintis bisnis fashion dari sebuah mesin jahit

Selphie Bong, desainer wanita muda Indonesia yang sukses. Ia bergabung dengan pekan mode untuk kontestan Kontes Kecantikan. Dia juga tergabung dalam organisasi Chic Eco di Hong Kong, Greener, Milano, Paris , Singapura dan Shanghai . Selain itu, dipilih sebagai desainer satu-satunya orang Indonesia untuk menjadi haute couture desainer di acara The United Nation Year of Biodiversity in the 2010 di Jenewa oleh PBB di antara desainer-desainer perdana internasional seperti Diane von Furstenberg, Reem Alasadi, John Rocha dan banyak lagi.
Untuk mengetahui lebih dalam perjalanan karier dan bisnis fashion Selphie Bong, berikut penggalan wawancara reporter SWA Online, Gustyanita Pratiwi.

Tolong diceritakan data pribadi Anda?

Saya lahir di kota kecil Metro di Lampung, Sumatera. Lahir pada tanggal 4 Maret 1987. Orang tua saya bernama Sutomo Bong dan Suriafi, orang tua saya asal Bangka dan merantau ketika mereka muda. Saya anak kedua dari tiga bersaudara, Selly Bong dan Selvany Bong.



Anda lulusan sekolah mana?

Saya tidak pernah lulus resmi dari sekolah manapun hanya SD dan TK di st. Fransiskus Xaverius.

Apakah Anda berasal dari lingkungan desainer? Apa pekerjaan orang tua?

Orang tua saya memulai usahanya sebagai pembuat roti dan kue. Papa saya bisa mengerjakan apapun. Saya besar di sebuah pabrik roti dan kue, setiap hari mencium bau manis dan mencuri meises dari kaleng dan memasukannya ke kotak makan dan makan roti dengan mentega dan meises berwarna warni setiap harinya. Mungkin itulah kenapa saya bisa tembem seperti hari ini. Hahaha.

Masa kecil saya seperti charlie and the chocolate factory. Melihat mesin yang memasukan satu butir jagung dan tiba tiba keluar sebuah snack. Mama saya membantu papa di pabrik kecilnya memasang coklat chip dan mendekor kue.

Saya pernah melihat mama saya menjahit dengan mesin butterfly, lalu menambal rok dan celana saya dan kakak yang selalu robek. Saya masih ingat sosok mama menjahit celana pendek batik, dan saya bangga sekali memakainya dan memamerkannya ke para tetangga.

Apakah setelah lulus Anda langsung menjadi desainer?

Saya drop out dari Raffles dan sempat bingung harus apa. Saya mengirimkan resume kerja, tidak ada yang membalas.

Saya lalu mencoba untuk ikut serta di kompetisi Young Designer International dan terpilih sebagai salah satu finalis di New York Fashion Week, dan di kirim ke New York . Saat itu saya bertemu dengan 15 designer muda asal London, Dubai, Miami, Australia, China dan banyak lagi. Saya memang bukan pemenang untuk malam itu, tetapi pengalaman saat itu membuka mata saya untuk menjadi ready ke market luar. Setelah itu, saya menerima pesanan dari orang tua teman saya dan kerabat, saat itu saya mulai berusaha sendiri sebagai designer.

Di SelphieBong dan Bong’s, berarti Anda berperan sebagai desainer sekaligus founder? Apa saja tanggung jawab Anda di posisi tersebut?

Tanggung jawab saya melingkupi dari desain awal, pembuatan pola masih saya sendiri yang memegang, pemilihan dan pembelian bahan, mendesign trimming, berhubungan dengan supplier dan customer.

Siapa yang mencetuskan Brand SelphieBong dan Bong’s?

Semua branding saya yang mencetuskan, dengan memakai nama sendiri adalah komitmen saya untuk fokus, kalau tidak yang malu saya sendiri, apabila kualitas tidak sebanding.

Pada saat pembukaan gerai, apakah Anda bekerja sama dengan pihak lain?

Saya memiliki management partner dalam hal ini. Jadi, dalam hal human resource, finance, dan pengaturan lainnya saya tidak mengambil andil.

Kalau boleh tahu, berapa modal awal yang dikeluarkan untuk membangun brand ini?

Everything start from scratch through regular customer base. Mulai dari satu mesin jahit, tanpa ada karyawan lalu berangsur penambahan mesin bertahap, dengan kepercayaan customer kami bisa membuka gerai pertama dengan modal yang cukup pas-pasan pada saat itu. Belakangan kami mulai mendapatkan investor, dan kami selalu mencari investor untuk setiap pembukaan gerai.

Apakah brand SelphiBong dan Bong’s ini khusus hanya untuk baju saja atau ada aksesoris-aksesoris lainnya seperti tas, sepatu, dompet, dll?

Kami juga membuat accessories, karena accessories lebih universal. Sepatu kami masih belum dicoba. Konsumen masih lebih mencari baju karena kami memang lebih ke design baju dan kami mau memfokuskan ke satu hal sebelum menambah ke hal lain agar maksimal.

Dilihat dari segi konsumen, berapa kontribusi yang diberikan antara konsumen dalam negeri dan konsumen luar negeri yang membeli baju-baju dan aksesoris rancangan Anda ?

Konsumen dalam negeri masih sedikit, bisa di bilang karena designer lokal memang kurang diminati. Orang Indonesia lebih memilih membeli produk bermerek Eropa dengan alasan prestige dengan branding mereka yang sudah lebih lama. Sedangkan konsumen luar negeri, mereka lebih menghargai desain dan mereka tidak begitu peduli dengan branding.

Konsumen dalam negeri mensupport sekitar 25%, cukup besar, dan 25% ini 15% dari mereka adalah return customer yang selalu kembali.

Seperti yang Anda katakan 50% konsumen berasal dari Eropa, dari mana saja pemesan terbanyak?

Dari Eropa kebanyakan dan Perancis, Italia, Inggris, dan Rusia. Juga, negara tetangga Eropa lainnya, seperti Spanyol dan Jerman.

Siapa desainer idola Anda?

Rancangan pasti hasil kami sendiri, tetapi inspirasi untuk itu tidak ada batasannya. Basically, label kami adalah classic cutting, dan selalu di kembangkan.

Untuk designer idola, jujur saya tidak ada idola siapapun, karena kalau saya mengidolakan seseorang, saya akan menjadikan diri saya seperti mereka dan menjadikan rancangan saya seperti mereka juga, maka saya akan melupakan identitas “Selphie Bong” sendiri.

Rancangan baju seperti apa yang paling disukai pasar saat ini?

Tergantung, pasarnya mana dulu. Karena Asia dan Barat cukup berbeda. Pasar termasuk besar, dan semua orang banyak kesukaan masing masing dan selalu berbeda. Demand-nya pun berbeda.

Adakah pengalaman menarik, seperti misalnya customer yang memesan baju yang aneh-aneh, sehingga Anda tertantang untuk membuatnya?

Kalau memesan baju yang aneh-aneh, konsumen salah desainer ya. Ada yang meminta memasangkan tengkorak bergliter di dadanya, dan saya mengenalkan costume designer kenalan saya.

Tetapi kemarin saya baru mendapat pemesanan baju salah satu chef ternama asal Italia. Beliau meminta untuk terlihat seksi dan ganteng ketika memasak ‘tomato sauce legendary. Beliau tahu  apa yang dia mau, dia sudah membayangkannya, dan tugas saya menangkap imaginasi dia dan merealisasikannya.

Kami membuat pakaian untuk seseorang yang ingin terlihat rapi, anggun, classic, dan berkelas. Bukan seseorang yang ingin terlihat seperti sedang ke halloween party. Kami tidak mau membuat seseorang terlihat aneh dan hanya mempermalukan diri mereka dan juga brand kami.

Khusus rancangan baju, kebanyakan memakai bahan apa dan apa terspesialisasi di gaun?

Kami banyak memakai sutra, katun organik, dan lycra terpilih. Bahan sebenarnya semuanya sama, hanya cutting dan detail. Kebanyakan pakaian kami di buat satu persatu di patung di drape, lalu di jahit, itulah yang membuat pakaian kami menjadi special. Kami tidak pernah memotong bahan langsung banyak dan menjadikannya mass production.

Sekarang trend-nya adalah advertising di social media, apakah SelphieBong dan Bong’s turut aktif di social media?

Saya baru-baru ini baru mulai memasarkan lewat Facebook, BONG’S by Selphie. Cukup kaget ketika beberapa minggu kami gencar mengupdate foto dan news, “liker” kami tiba tiba menjadi 1.000 yang tadinya hanya ratusan.


ditulis oleh Gustyanita Pratiwi
Link: SWA







Sunday, October 21, 2012

Kusdarmawan Aryo Baskoro, juragan fashion distro dari solo

Sebagai pengusaha, usia Kusdarmawan Aryo Baskoro masih terbilang muda. November mendatang, bujangan ini baru genap 28 tahun. Dalam usia tersebut, dia telah menjadi salah satu pemain penting di bisnis fashion distro di Tanah Air.

Aryo adalah pemilik Rown Divisions. Nama perusahaan fashion untuk distro yang berpusat di Kota Solo ini tidak asing lagi di kalangan pemilik gerai distro di Indonesia . Maklumlah, selama ini, Rown memang salah satu pemasok besar yang rajin memasok produknya ke berbagai distro di berbagai kota di Indonesia .”Selain menjual di distro sendiri, kami menjual produk lewat distro lain,” kata pria kelahiran 9 November 1984 ini. Rown — singkatan dari Aryo Own — memiliki dua gerai distro: satu di Solo dan satu di Karanganyar. “Tidak lama lagi kami akan membuka kantor pemasaran di Bandung ,” katanya. Selain ke pasar domestik, ia juga telah memasarkan produknya ke berbagai negara, seperti Singapura dan Malaysia . “Juga, sudah ada rencana pengiriman ke Kanada,” ujarnya semringah.

Keberhasilan Aryo membuka kantor pemasaran di Kota Bandung tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Maklum, selama ini Bandung dianggap sebagai kiblat distro Tanah Air. Buat Rown, Bandung juga merupakan kota penyumbang pendapatan terbesar. “Ternyata, produk kami bisa diterima di Bandung , dan permintaannya terus meningkat. Karena itu, kami harus membuat marketing office di sana .”

Keunggulan bisnis Aryo salah satunya karena konsisten meluncurkan desain-desain baru. Bagi Aryo, sudah menjadi keharusan untuk terus melahirkan karya baru setiap bulan. Bila dirata-rata, setiap hari pasti ada produk (desain) baru yang muncul, entah berupa sepatu, jaket, kemeja, jins atau T-shirt. “Kami telah memiliki desainer khusus yang siap memunculkan desain-desain baru,” ujar anak kedua Bambang Mintosih, yang juga dikenal sebagai tokoh pengusaha di Solo, ini.

Yang juga menarik, untuk menjaga eksklusivitas, Aryo membatasi produksi setiap desain baru maksimum hanya 30 potong. Kebijakan ini diambil untuk menjaga citra Rown agar tidak identik dengan produk massal.

Saat ini, Aryo membanderol harga produknya dari Rp 20 ribu sampai Rp 800 ribu. Dia mengakui selama ini produknya lebih banyak terjual di distro lain ketimbang distro miliknya sendiri.

Dari segi target pasar, menurut Aryo, sebenarnya sejak awal ia ingin menyasar pasar anak muda. Namun kenyataannya, penggemar produknya mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Dengan 40-an karyawan, setiap bulan Aryo mampu memproduksi 30-an ribu aneka produk fashion: sepatu, sandal, T-shirt, kemeja, jaket, tas , topi dan aneka aksesori lainnya. Semua produknya diberi label Rown. Untuk produk busaha pria, ia menggunakan brand Rown Terror, sedangkan untuk busana wanita memakai merek Pretty Rown.

Menjadi pebisnis ternyata memang sudah menjadi pilihan hidup Aryo sejak kecil. Ia bercerita, sejak duduk di bangku kelas 3 SD, ia sudah belajar berjualan camilan gorengan dan kacang buatan ibundanya. Ia mengaku berjualan bukan karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan karena menyukainya. Antara lain, karena bisa punya tabungan.

Menginjak bangku SMA, ia mulai menyenangi dunia desain, sehingga ia menekuni usaha sablon. Bisnis sablon ini mulai ia seriusi ketika kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Dari bisnis sablon inilah ia menemukan bisnisnya yang terbukti prospektif, yakni fashion distro.

Mengawali bisnis fashion-nya pada 2003, ia bermitra dengan seorang kawannya untuk memproduksi T-shirt merek Ankles. Kala itu, target pasarnya sangat khusus, yakni komunitas penggemar skateboard. Kongsi ini tidak berjalan lama, karena ada perbedaan prinsip di antara mereka berdua.

Kegagalan kongsi bisnis itu tak membuat Aryo putus asa. Ia memberanikan diri mencoba usaha sendiri. Awalnya, hanya membuat T-shirt dari hasil desain sendiri, dengan merek Rown. “Di luar dugaan, banyak yang menyukai desain saya,” ia menceritakan.

Tahun 2006, dengan modal awal menguras uang tabungan Rp 30 juta, Aryo secara resmi mendirikan bendera Rown. Ia menyewa tempat berukuran 2×3 m2 di kawasan Jl. A. Yani, Solo. Awalnya, ia hanya mempekerjakan tiga karyawan. Keberuntungan rupanya berpihak kepadanya. Bisnis Aryo terus berkembang.

Karena itulah, pada 2008 ia mulai memberanikan diri meminjam modal ke bank. Dengan suntikan dana dari bank sebanyak Rp 100 juta, ia membesarkan bisnisnya dengan menyewa tempat yang lebih besar untuk mendirikan distro. Dari tiga karyawan, terus berkembang hingga kini menjadi 40 karyawan. Di antara mereka juga ada desainer khusus. Jenis produk pun berkembang. Tidak sekadar kaus, tetapi juga sepatu, celana, kemeja, jaket hingga topi.

Tak hanya kreatif dalam melahirkan aneka produk fashion-nya, Aryo ternyata juga kreatif dalam mengemas pemasarannya. Selain menggunakan berbagai media jejaring sosial, ia juga aktif melakukan branding lewat program televisi. Antara lain, pernah menjadi sponsor untuk film televisi (FTV). Selain itu, juga sering menjadi sponsor pentas musik di Solo.

Aryo kini sudah bisa menikmati buah kerja kerasnya selama ini. Omset bulanannya diperkirakan sudah mencapai miliaran rupiah. Seperti halnya serial entrepreneur lainnya, kini setelah merasa mapan dengan bisnis fashion-nya, Aryo berencana mengembangkan bisnis lain. Salah satunya, bisnis furnitur. (*)

ditulis oleh Gigin W. Utomo
Link: SWA

Kreasi Ibu RT tembus mancanegara

Siapa sangka berawal dari iseng-iseng mempercantik pakaian dan kerudung bekas milik anggota keluarganya, puluhan perempuan warga Kampung Kiarapayung, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga atau mengurus keluarga, kini seolah mendapat durian runtuh.

Para ibu rumah tangga itu setiap bulan selalu mendapat order berbagai produk kerajinan payet (hiasan manik-manik) dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Pasar Tanah Abang Jakarta, Cirebon, Pulau Sumatra, dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia. Luar biasanya lagi, kerajinan payet hasil kreasi ibu-ibu rumah tangga itu berhasil menembus pasar mancanegara. Padahal, kegiatan industri rumahan produk kerajinan payet itu baru berjalan kurang dari satu tahun. Omzetnya pun mencapai puluhan hingga ratusan juta per bulan bergantung pada banyaknya pesanan.

Sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Libanon, Uni Emirat Arab, Palestina, dan sejumlah negara lainnya, menjadi daerah pemasaran produk-produk hasil kerajinan industri rumahan kelompok ibu rumah tangga di Desa Mekarsari. Produk-produk payet yang dihasilkan antara lain berupa pakaian muslim, sarung, tas jinjing, hingga kerudung.

Menurut salah seorang perajin produk payet, Neneng (42), sebagian besar hasil produksi mereka dipasarkan ke beberapa negara di luar negeri, khususnya negara-negara muslim. Adapun sisanya memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Salah satu permasalahan yang dihadapi para perajin untuk memenuhi permintaan pasar adalah soal waktu produksi yang terbilang cukup lama. Untuk menghasilkan sebuah kerudung payet misalnya, seorang pekerja memerlukan waktu lebih dari dua hari. "Kerajinan ini bermodal murah, tetapi butuh ketelatenan yang serius. Butuh beberapa hari bagi pemula untuk menyelesaikan satu kerajinan payet kerudung," ujar Neneng saat ditemui di Desa Mekarsari, Kamis (4/10/2012).

Teknis payet memang gampang-gampah susah. Sekilas, terlihat mudah dikerjakan karena hanya mengikuti gambar di pola. Namun ketika mulai menjahit pada pola di kain atau tas, kesulitan langsung menghampiri. Diperlukan konsentrasi tinggi serta ketelitian ketika memasang payet dalam pola yang sudah digambar.

Bagi para perajin yang jam terbangnya belum cukup tinggi, biasanya pemasangan payet tampak kurang rapi. Namun setelah jam terbangnya mencukupi, dengan sendirinya payet akan terlihat leih rapi dengan aneka macam pola. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah produk pun menjadi lebih singkat. "Selain terus dilatih, inovasi produk baru pun menjadi keharusan agar produk-produk kami mampu bersaing dengan produk lainnya," kata Neneng.

Ia mengaku sangat bersyukur, meskipun hanya bertaraf usaha rumahan, produknya telah menjamur di berbagai wilayah di Indonesia . Bahkan, produk payet asal Desa Mekarsari sudah cukup dikenal luas di sejumlah negara Asia Tenggara dan Timur Tengah. "Harapannya ke depan, kami akan dibantu lagi dalam permodalan agar usaha kami, meskipun usaha rumahan, terus berkembang," ujar Neneng.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BKKBN KBB, Nur Djulaeha, mengatakan kerajinan payet merupakan kerajinan industri rumahan unggulan di Desa Mekarsari. Karena dinilai cukup menjanjikan, banyak ibu-ibu rumah tangga khususnya yang tidak bekerja akhirnya memutuskan ikut serta terjun dalam menggeluti industri rumahan ini. "Awalnya hanya ada dua kelompok yang kami bina. Tapi sekarang terus bertambah. Makin banyak ibu-ibu yang ikut membuat kerajinan payet," kata Nur.


Kerajinan payet di Desa Mekarsari baru mulai dikembangkan pada Februari 2012 saat desa tersebut memperoleh bantuan dalam program Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) di Kampung Kiarapayung, Desa Mekarsari. "Jadi, desa ini dibina oleh lintas sektor. Ada Dinas Perdagangan, Keluarga Berencana, PKK, Dharma Wanita, GOW (Gabungan Organisasi Wanita, Red), dan lain-lain," kata Nur.

ditulis oleh M Zezen Zainal M
Link: KOMPAS

Wednesday, October 17, 2012

Carline Darjanto berkibar dengan Cotton Ink

Industri fashion tampaknya memberi tantangan besar bagi Carline Darjanto. Tak heran, sejak sepakat bersama mitra bisnisnya Ria Sarwono membuat merek Cotton Ink di akhir November 2008, Carline terus menggelutinya hingga bisa berkembang seperti sekarang. Cotton Ink kini menjadi ikon baru di bisnis fashion yang sukses merancang dan menyediakan berbagai produk pakaian wanita mulai baju, bawahan, outerwear sampai aksesori seperti shawl dan tas.
 
Carline dan Ria sudah berteman sejak SMP. Selepas SMA, Carline menempuh studi fashion di Jurusan Desain Fashion  Lasalle College of Fashion, Jakarta . Adapun Ria memilih kursus singkat di London College of Fashion. “Saya sempat bekerja di sebuah garment manufacturer, belajar banyak mengenai manajemen, impor-ekspor, dan berbagai hal penting mengenai industri fashion. Setelah itu saya fokus di Cotton Ink yang kini makin berkembang,” ungkap Carline, kelahiran 25 Mei 1987.

Carline Darjanto, bersama Ria Sarwono mengibarkan industri fashion bermerek Cotton Ink
Cotton Ink mendapatkan momentum bagus saat memperkenalkan kaus sablon dengan gambar Barack Obama yang di tahun 2008 sedang ngetop-ngetopnya. Dari sukses jualan kaus sablon bergambar wajah Obama, dua sekawan itu kemudian menambah beberapa produk pakaian wanita seperti busana siap pakai, legging, aksesori dan syal. Produk inilah yang benar-benar mengangkat nama Cotton Ink. Terutama produk syal yang awalnya menjadi daya pikat, sebelum akhirnya ke baju atasan wanita. Cotton Ink mengeluarkan produk yang kreatif, membuat sebuah syal multigaya, dengan bahan bernama tubular – bahan kaus berbentuk lingkaran tanpa jahitan – yang jarang dipakai di Indonesia .
 
Memang, salah satu diferensiasi yang dikembangkan di Cotton Ink adalah berusaha inovatif, baik dari rancangan yang multifungsi maupun bahan kainnya itu sendiri. “Kami berusaha bereksperimen denganmaterial mix dan pembuatan kain yang kami olah bersama dengan pabrik atau perajin untuk beberapa kain tradisional Indonesia ,” ungkap Carline. Para pelanggan Cotton Ink cenderung menyukai rancangan baju yang simpel dengan detail pada kainnya. Sejauh ini bahan bajunya kebanyakan memakai katun, yang sebagian besar diproduksi di dalam negeri. Untuk aksesori dan tas memakai kulit imitasi. “Kami tidak ingin menggunakan kulit asli, itu pilihan kami.”
 
Rentang harga produk Cotton Ink mulai dari Rp 69 ribu (shawl) sampai Rp 349 ribu (jaket/outerwear).Pakaian wanita sejauh ini merupakan produk utama Cotton Ink dan memberikan kontribusi 80% dari pendapatan. “Pelanggan biasanya datang untuk membeli atasan, sedangkan sisanya di aksesori dan tas,” ungkap wanita pehobi jalan-jalan ini.
 
Dalam memasarkan Cottton Ink, Carline dan Ria aktif mempromosikannya melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Tumblr, Pinterest. “Target pasar kami sangat aktif dalam media sosial. Penting sekali turut serta dalam gaya hidup mereka, agar kami bisa terus berinteraksi dengan para pelanggan dengan lebih cepat,” Carline memberikan alasan.
 
Dunia online tidak terpisahkan dari sukses Cotton Ink. Tak heran, seperti diakui Carline, kontribusi penjualan terbesar pun didapat dari pemasaran melalui website-nya, cottonink-shop.com. Toh produk Cottton Ink juga sudah banyak dijual di sejumlah butik. Di Jakarta misalnya, di The Goods Dept, Pacific Place , lalu di Bandung bisa dijumpai di butik ESTplus, Widely Project dan Happy-go-lucky. Sementara di Surabaya, bisa dilihat di butik ORE. Saat ini Carline dan Ria mulai melayani pembeli dari luar negeri seperti beberapa pelanggannya di Singapura , Malaysia , Australia dan Eropa. “Untuk pasar luar negeri kami baru melayani order langsung. Kami sedang fokus di dalam negeri,” kata wanita yang mengidolakan desainer Adrian Gan dan Phoebe Philo ini.
 
Dalam usianya yang masih muda, Cotton Ink sudah memperoleh berbagai pengakuan. Tahun 2010, mereka meraih Most Favorite Brand di Brightspot Market; The Most Innovative Brand dalam Cleo Fashion Award (Jakarta Fashion Week); Best Local Brand dari Free Magazine, serta terpilih sebagai merek lokal favorit In Style Magazine tahun 2012. “Industri fashion penuh tantangan. Kami harus bisa kreatif dalam segala hal, bukan hanya pada desain. Di sini kami belajar bahwa kami harus selalu fokus pada solusi masalah, bukan pada problemnya,” Carline menuturkan pengalamannya

ditulis oleh Sudarmadi & Gustyanita Pratiwi
Link: SWA