Pasang Banner disini

Hubungi kami segera untuk pasang banner anda disini

Boneka Peraga Gigi

Memiliki penghasilan tinggi di usia muda, bukan hal yang tidak mungkin. Misalnya Anggi Hayani, mahasiswi kedokteran gigi Universitas Sumatera Utara mampu membuktikan hal itu

Bubur Sehat Buat Bayi

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Oleh sebab itu, mereka sangat menaruh perhatian tinggi terhadap asupan makanan bagi si buah hatinya. Apalagi, ketika anaknya masih berusia di bawah lima tahun (balita)..

Pasang Banner

Tertarik untuk memasang iklan di sini? Hubungi kami segera!

Mushroom factory

Bagi kebanyakan orang, lulus dari perguruan tinggi biasanya langsung memilih bekerja dan namun tak banyak yang langsung memilih berwirausaha. Adalah Cholis, sang sarjana kesehatan yang lebih memilih langsung berkecimpung ke dunia usaha..

Showing posts with label Bisnis Makanan. Show all posts
Showing posts with label Bisnis Makanan. Show all posts

Monday, October 22, 2012

Peluang Bisnis Camilan jamur dan jagung

Bisnis camilan berbahan baku jamur dan jagung memang menggiurkan. Tak heran, bila banyak pemain meramaikan bisnis ini. Salah satunya adalah Muhammad Tajib yang mengusung bendera usaha Healthy Food Inside di Wonosobo, Semarang , Jawa Tengah. Bisnisnya ini menawarkan menu camilan jamur krispi dan jagung serut aneka rasa , seperti barbeque dan mayones. Untuk minumannya tersedia aneka pilihan jus buah.

Dalam usahanya ini, jamur krispi menjadi menu andalan Tajib. Ia mengklaim, sebagai pionir jamur kripsi asal Semarang . Harga makanan dan minuman tersebut dibanderol mulai Rp 3.500 hingga Rp 8.000 per porsi. "Kami menyasar masyarakat menengah ke bawah," kata Tajib yang merintis usaha sejak 2009 ini.

Kini, bisnis Tajib telah berkembang lewat sistem kemitraan, dengan jumlah 30 mitra. Mereka tersebar di Semarang , Kudus, Purworejo, dan Majalengka. Awalnya, Tajib memiliki lima gerai milik sendiri di Semarang . Namun belakangan, gerai itu dijualnya kepada mitra dan memilih fokus memproduksi bahan baku untuk dijual kepada para mitranya.

Bagi yang berminat, Tajib menawarkan kemitraan dengan investasi Rp 5 juta. Mitra akan mendapatkan satu outlet, perlengkapan dan resep makanan. Mitra juga akan mendapatkan training pembuatan makanan dan pengelolaannya. "Kami dari pusat akan menjual bahan tepung saja," ujar Tajib.

Mitra dibolehkan memakai brand sendiri. Selain itu, kerjasama ini tidak memungut franchise fee dan royalti fee. Untuk lokasi usaha harus berada di tempat-tempat keramaian, seperti dekat pemukiman penduduk, pasar, dan sekolah. Ia menargetkan, omzet mitra rata-rata Rp 300.000 - Rp 500.000 per hari. Dengan omzet tersebut, mitra diharapkan bisa balik modal dalam waktu lima bulan.

Tajib menjanjikan, dengan menjual dua produk sekaligus, peluang mitra untuk meraih target omzet itu terbuka lebar. "Mitra bisa mengantongi omzet yang besar, sehingga usahanya bisa terus berjalan dan berkembang," katanya. Menurut Tajib, sistem kemitraan yang dijalankannya ini tidak mengikat mitra. Intinya, jika mitra mengalami kesulitan, kantor pusat siap membantu. (Noverius Laoli/Kontan)

ditulis oleh Noverius Laoli / Kontan
Link: KOMPAS

Kemas, juragan pempek beromzet ratusan juta

Berawal dari usaha kecil-kecilan, Kemas Firmansyah sukses membesarkan bisnis pempek dengan brand Wongkito 19. Bisnisnya semakin menggurita lewat sistem kemitraan. Hingga saat ini, total gerai pempeknya sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia . Dari jumah itu, 89 gerai di antaranya milik mitra.

Dari usaha ini, omzet yang Kemas kantongi dalam sebulan mencapai Rp 500 juta. Bisnis pempek ini mulai dia rintis pada akhir tahun 2006. Selain alasan bisnis, lewat usaha pempek ini, ia juga ingin menunjukkan identitasnya sebagai orang Palembang .

Sebab, selama ini, Kemas melihat sebagian besar pedagang pempek bukanlah orang asli Pelembang. Padahal, pempek merupakan makanan tradisional khas wong kito galo, sebutan untuk orang Palembang . "Seharusnya saya juga berdagang pempek karena saya orang Palembang ," ujar pria keliharan 1971 ini.

Kemas akhirnya terjun ke usaha kuliner pempek dengan membuka outlet kecil di dekat rumahnya di daerah Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat. Berkat keuletannya mempopulerkan bisnis ini, dalam beberapa tahun, jumlah gerai pempeknya terus bertambah. Terlebih setelah ia menawarkan kemitraan di 2008.

Menurut Kemas, perkembangan usaha pempeknya berkat totalitasnya dalam mengembangkan usaha. Apalagi, sejak awal ia memang menyukai bisnis ini. Lantaran sudah suka, ia pun mencurahkan seluruh waktu dan pikirannya untuk membesarkan usaha ini. "Kalau berbisnis harus disukai dulu supaya maksimal," katanya.

Kecintaan Kemas terhadap pempek sudah tumbuh sejak dia kecil. Ia mengaku, sejak kecil sudah terbiasa menyantap pempek karena ibunya suka membuat makanan tersebut.

Tidak hanya penyuka pempek, seiring usianya yang makin beranjak dewasa, Kemas pun mulai membuat pempek sendiri. Berbekal kemampuan itu, dia kemudian terjun ke usaha pempek.

Di awal merintis usaha, ia langsung memperkenalkan variasi pempek hasil racikannya, seperti pempek sosis, pempek kapal selam, pempek keju, dan panggang. Aneka pempek ini Kemas banderol mulai Rp 3.000 hingga Rp 14.000 per buah. "Salah satu favorit pelanggan adalah pempek kapal selam super," ujarnya.

Lantaran pempek buatannya banyak punya penggemar, pada 2008 Kemas memberanikan diri menawarkan kemitraan. Baginya, sebuah usaha bisa berkembang jika ia bermitra dengan orang lain.

Dengan bermitra, maka sebuah brand akan semakin dikenal masyarakat. "Pebisnis harus punya banyak partner," katanya. Selain menjalin kemitraan, Kemas juga memanfaatkan media online untuk memperkenalkan produknya dengan membuat website Wongkito 19.

Ia menugaskan pegawainya untuk memuat info-info terbaru terkait Wongkito 19. Alhasil, saban hari selalu saja ada informasi anyar di situs Wongkito 19. Dari sanalah bisnisnya terus berkembang. Tak cuma di Jabodetabek, mitranya ada di Bandung , Cirebon , dan Kalimantan .

Jatuh bangun

Jiwa bisnis Kemas Firmansyah sudah terasah sejak kecil. Ia telah terbiasa berjualan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Sejak masih kelas satu SD, ia sudah berjualan martabak buatan ibunya. "Saya jualan martabak keliling kampung," kata Kemas.

Naluri berdagang Kemas berlanjut saat ia mengecap bangku sekolah menengah atas (SMA). Ketika SMA ini, ia menekuni usaha pembuatan tatabahasa (grammar) bahasa Inggris. Tatabahasa itu dibuat dalam bentuk kalender, sehingga bisa ditempel di dinding dan memudahkan menghafalnya.

Kegiatan bisnisnya terus berlanjut. Ketika kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang , ia berjualan jaket, celana jins, dan baju kepada teman-temannya. "saya memesannya dari Bandung ," ujarnya.

Lulus kuliah tahun 1995, ia sempat bekerja di beberapa perusahaan. Namun, naluri bisnis kembali memanggilnya. Tahun 2002, ia menanggalkan profesinya sebagai karyawan dan memilih terjun ke bisnis servis komputer di Bekasi.

Selain jasa servis, ia juga menyediakan komponen-komponen komputer. Namun, bisnis ini hanya bertahan dua tahun. Setelah menutup usaha ini, ia menggeluti bisnis baru, yakni, bisnis penjualan mobil. Kemas memulai usaha jual beli mobil baru dan bekas pada tahun 2004. Selama menggeluti usaha ini, ia sempat memiliki showroom sendiri di Bekasi.

Namun, lagi-lagi bisnisnya ini harus gulung tikar karena dilanda krisis. "Waktu itu, harga BBM (bahan bakar minyak) naik sehingga penjualan mobil turun drastis,"jelasnya. Saat menutup usaha ini tahun 2005, ia terjerat utang dalam jumlah besar. Untuk melunasi utangnya, ia terpaksa menjual rumah dan aset-aset miliknya.

Jatuh bangun di dunia bisnis tidak membuatnya jera. Kemas menilai, kegagalan itu bukanlah akhir dari bisnisnya. Tidak sampai satu tahun setelah menutup usahanya, Kemas bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta sebagai sales marketing.

Di perusahaan itu ia bertekad untuk mengumpulkan modal sebelum terjun ke dunia bisnis lagi. Selama bekerja di perusahaan itu, pendapatannya lumayan besar karena berhasil menjual ribuan mobil.

Setelah uang tabungannya terkumpul lumayan banyak, pada tahun 2007 ia memutuskan keluar dan mendirikan bisnis pempek. Bisnis ini dirintisnya dengan modal awal Rp 20 juta.

Belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, ia pun bertekad untuk mengembangkan bisnis barunya ini.  Upayanya itu tidak sia-sia.Terbukti, total gerai pempeknya kini sudah mencapai 92 outlet yang tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia .

Merambah bisnis lain

Kendati telah sukses di bisnis pempek, Kemas Firmansyah tetap rajin melihat peluang usaha lain. Kini, ia kembali merambah bisnis jual beli mobil. Sebelumnya, dia pernah terjun ke bisnis ini pada tahun 2004. Setahun berjalan, usahanya itu bangkrut. Namun, Kemas mengaku tak jera untuk kembali merambah bisnis jual beli mobil ini.

Hanya, saat ini dia belum memiliki showroom khusus jual beli mobil. "Jadi, saya jual mobil satu per satu langsung kepada konsumen," kata Kemas.

Meski demikian, ke depan ia tetap berencana untuk membuka showroom mobil lagi. Untuk itu, Kemas akan mengajak beberapa investor. Dengan berkongsi, dia tidak akan sendirian mengelola bisnis ini.

Bila bangkrut, Kemas pun tidak akan menanggung kerugian terlalu besar. Jadi, risiko usaha ditanggung bersama investor. Menurutnya, sistem ini jauh lebih baik dibandingkan dengan membuka bisnis sendiri.

Selain kembali menggarap bisnis jual beli mobil, ia juga akan melebarkan sayap usahanya di bisnis makanan. Yakni, merambah bisnis makanan sehat khusus bayi dan anak-anak. Bila tak ada aral melintang, bisnis ini akan Kemas launching pada September tahun ini, dengan nama Super Barin Food.

Sejatinya, Kemas sudah merintis usaha ini sejak dua tahun terakhir dengan sistem katering. Kalau nanti sudah resmi diluncurkan, ia akan langsung menawarkan kemitraan usaha kepada investor yang berminat.

Kemas menjelaskan, makanan yang dipasarkan itu dia produksi khusus untuk memenuhi kebutuhan nutrisi otak bayi dan anak-anak. Makanya, ia mengklaim, pembuatan makanan itu tidak menggunakan bahan kimia. "Kami bikin kandungan gizi makanan ini tinggi dan berguna bagi kecerdasan anak-anak," papar Kemas.

Selain makanan khusus bayi dan anak-anak, Kemas juga akan memproduksi makanan sehat untuk orang dewasa. Makanan ini dia klaim bisa memperkuat daya ingat seseorang. "Kami memiliki seorang dokter yang paham soal gizi makanan, sehingga produk makanan ini terjamin kualitasnya," ujarnya.

Meski sibuk mengembangkan bisnis, Kemas tetap memilih bekerja di salah satu perusahaan otomotif di Jakarta dengan jabatan yang ia pegang saat ini: sales manager.

Kemas menuturkan, kecintaannya pada dunia otomotif membuatnya tetap memilih menjadi karyawan perusahaan otomotif. Sedang, usaha yang sudah dia rintis diserahkan pengelolaannya ke orang-orang profesional.

Ia hanya mengawasi dan memberikan masukan kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya. Walau tetap bekerja di perusahaan otomotif, jiwa Kemas tetaplah seorang pengusaha.

Menurut Kemas, seorang pengusaha harus memiliki mental pantang menyerah terhadap segala kesulitan yang menghadangnya. "Sebab, setiap persoalan yang muncul, pasti ada jalan keluarnya," katanya.

Seorang pengusaha juga harus berani melangkah agar bisnisnya bisa tumbuh. Tapi, ada kalanya pengusaha mengesampingkan pertimbangan rasional untuk meraih sukses. (Noverius Laoli/Kontan)

ditulis oleh Noverlius Laoli/Kontan
Link: KOMPAS

Nazwa pernah stres, kini juragan kue sukses

Bisnis makanan cukup banyak menelurkan kisah sukses. Salah satunya adalah kisah sukses Nazliana Lubis, pemilik usaha aneka kue di Medan , Sumatra Utara. Berkat ketekunan dan kerja keras, dia berhasil membesarkan toko kue Nazwa Aneka Kue hingga menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Salah satu kue khas yang diolahnya dan menjadi terkenal adalah cake pisang yang diberi nama Blondi Pisang Barangan.

Toko kue milik Nazliana atau yang kerap disapa Nazwa yang terletak di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara. Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel.

Hotel-hotel memesan kue Nazwa sedikitnya sebanyak 600 potong sekali event. “Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event,” jelasnya. Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. “Sekarang bisa menghabiskan 3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari,” kata wanita berkerudung ini. Selain kue dia juga menerima pesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasa memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks.

Sebelum menjadi juragan kue, lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatra Utara tahun 1989 ini sempat bekerja di bagian ticketing di sebuah biro perjalanan selama tiga tahun. Tahun 1991, dia pindah ke perusahaan maskapai penerbangan Simpati. Jabatan terakhirnya, supervisor. “Kerja di perusahaan penerbangan itu memiliki gengsi tersendiri. Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah,” kata perempuan kelahiran Medan , 23 Januari 1965 ini.

Sayangnya, kebanggaannya bekerja di industri penerbangan harus berakhir. Nazwa kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena Simpati tak beroperasi lagi mulai tahun 1997. “Saya sempat stres dan labil, malu sama teman-teman dan lingkungan,” ujarnya.

Selama enam bulan, Nazwa depresi. Akhirnya, dia menemukan semangat setelah mengamati lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara. “Saya perhatikan, kok di kawasan kampus tidak ada yang jual jajanan berat semacam kue. Saya pun terpikir untuk buka usaha kue,” kenangnya.

Nazwa mulai mengulak-alik aneka buku resep masakan untuk mencari dan belajar mengolah aneka kue. Maklum, dia tidak punya keahlian memasak sehingga mengandalkan buku resep. “Saya pilih jualan donat sebab proses pembuatan lebih mudah ketimbang membuat kue yang lain dan di sekeliling kampus belum ada yang jualan donat,” ujar istri dari Fadlin ini.

Pada Juli 1997, Nazwa nekat jualan donat bermodal dana kurang dari Rp 100.000. Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. “Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya masih belajar membuatnya,” katanya sambil tertawa.

Nazwa terus mengasah kemampuan membuat kue. Dia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung . Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan . Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan.

Setengah tahun berjalan, penjualan usaha toko kue Nazwa belum meningkat. Justru lebih sering merugi lantaran saat itu terjadi krisis moneter tahun 1998. “Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha,” katanya.

Bayaran tak pasti

Nazwa mulai berani menitipkan kuenya di toko-toko kue. Dari sini, produksi dan omzet mulai berkembang. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokus mengelola toko dan mulai mengajukan proposal penawaran ke beberapa hotel di Medan .

Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. ”Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu,” ujarnya. Ia gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurut dia, yang paling penting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel.

Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 piecesper item. “Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen,” jelasnya. Dia juga mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien.


Kisah Resto Ayam Jualan CD

Kentucky Fried Chicken (KFC) dikenal sebagai resto fast food yang mengandalkan ayam oreng sebagai sajian menu utamanya. Menghadapi konsumennya yang makin menua, Fabian Gelael, Direktur Pengelola KFC Indonesia, berusaha menarik sebanyak mungkin konsumen kawula muda. Caranya, dengan menjual CD.  Semula, gagasan yang nyeleneh ini cuma dipandang sebelah mata. Tapi, setelah sukses menjual jutaan keping CD, akhirnya pemilik label besar pun bersedia bekerja sama dengan menyodorkan artis terbaiknya untuk menjual CD di KFC. Artis papan atas seperti Agnes Monica pun sekaligus digaet untuk mempromosikan KFC. Setiap bulan, penjualan CD di KFC mencapai 850.000 keping. Kini, gerai KFC menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak-anak muda.

Berikut ini wawancara wartawan SWA, Herning Banirestu, dengan Fabian Gelael, Direktur Pengelola KFC Indonesia:
Bagaimana Anda melihat posisi KFC Indonesia saat ini?

Oh good, saya baru saja mendapat infornasi dari konsultan brand image tracking, yaitu BIT Ecorn yang telah melakukan riset dengan menyebarkan pertanyaan tentang brand engagement ke 3.000-3.700 responden setiap kuartal dalam setahun di tujuh kota besar. Parameternya adalah brand awareness, brand penetration, dan top of mind. Dari hasil survei itu KFC mendapat angka brand awarenessnya 99-100%, top of mind 81%. Top of mind kedua dipegang resto fast food lain, sekitar 11%, sisanya brand lain.

KFC saat ini menjadi trend setter anak muda dengan banyak kreativitas yang Anda lakukan. Sejak kapan tercetus ide menjadikan KFC juga sebagai channel distribusi rekaman musik?

Idenya sangat simpel. Memang idenya dari saya. Sedikit mundur ke belakang, ini karena saat itu kami memandang, kami selalu kalah dalam hal menjaring konsumen remaja dibanding McDonalds. Kami melihat KCF mengalami aging dalam hal pelanggan. Pelanggan kami sekitar 30-35 tahun saat itu. Sedangkan kita tahu, produk fast food adalah produk anak muda atau youngster. Kalau para youngster sudah beralih dari merek kami,  itu sudah kondisi yang paling bahaya.

Kami melihat KFC kondisinya saat itu begitu. Karena itu, kami harus mencari alat yang bisa menarik anak muda. Kami melihatnya simpel saat itu yaitu musik. Karena kami melihat merek-merek besar memulainya juga dengan musik. Seperti Reebok, Pepsi, CocaCola, dan sebagainya. Hanya saja mereka melakukan short cut. Makanya kami inign memulainya dengan cara yang berbeda. Kami memperhatikan, kala perusahaan menggunakan artis penyanyi untuk kampanye yang makin ngetop malah artisnya. Kalau CocaCola misalnya, hanya menggunakan musik sebagai pendorongnya, tidak memiliki  program musik sendiri. Company always come to second. Jadi artinya, company ini jika ingin memsponsori artis besar pasti kalah dengan perusahaan rokok budget-nya. Kekuatan saya pada TVC.

Akhirnya tiada pilihan lain, kami harus membangun program musik sendiri. Ini orang cenderung tidak mau lakukan. Maka, tidak heran saya pernah diketawain orang karena program ini. Saya bisa dibilang nangis darah selama 2,5 tahun. Untuk mendapat kepercayaan itu saya harus terseok-seok. Saya membangun program musik sendiri bukan dengan menggandeng artis besar, tapi dengan Indie band. Kami mengumpulkan band-band potensial, kami repackage lagi dari yang paling bagus. Lalu kami jual di gerai KFC.

Gebrakan saya ini sempat diragukan oleh para pemimpin label besar. Mereka sangat skeptikal sekali akan langkah saya. Mereka bilang, kami saja yang sudah bermain di bisnis label musik sudah puluhan tahun, sekarang sudah jualan CD, kamu jualan ayam mau jualan CD. Orang meragukan langkah saya, karena pertama, kami penjual ayam goreng. Tidak pernah jualan musik. Lalu kedua, kami menjual ini artis yang masih “ecek-ecek” belum terkenal lagi. Yang tidak jelas, mau melawan artis besar mereka.

Awalnya bahkan saya atau front liner di toko saya suka dimarahi pelanggan, ini mau jualan ayam atau lagu sih. Mereka protes, ayo cepat, saya mau ayamnya cepat dikasih, begitu pelanggan kami protes pada awalnya. Tapi saya terus mendorong karyawan saya: you just do it. Dengan sopan ya. Saya jelaskan ke karyawan, sasaran pasar kami adalah remaja. Jika ini tidak kami garap, masa depan kami akan suram. Begitu selalu saya tekankan pada anak buah. Dengan musiklah kami bisa mendekati mereka.

Lalu apa yang Anda lakukan mensiasati kendala tersebut?

Akhirnya kami mendapat trik cara menjual CD-nya. Artis indie band ini sebagai pancingan awal saja. Kami juga ingin mendorong agar orang mau melihat musik di gerai KFC kami. Pada bulan pertama kami hanya menjual 3.000 CD per bulan. Lalu kami mencari cara agar orang mau membeli CD juga. Kami juga mendapat tantangan lain adalah wabah bajakan. Label saja susah melawan bajakan. Maka tidak heran kalau orang bilang ide saya ini gila. But I like to break the rule. Kala orang lain bilang tidak mungkin saya mau buktikan. Ini menjadi tantangan bagi saya.

Kami lalu mendapat cara paling ampuh adalah dengan repackage CD dengan produk kami, produk ayam kami. Plus free goceng (Rp 5.000,00) seumur hidup dengan membeli CD musik di gerai kami. Orang terpancing, ternyata mau beli CD kami karena free goceng seumur hidup itu. Habit untuk membeli CD itu terbangun di KFC. Penjualan naik menjadi 5.000, 10 ribu, 50 ribu, 60 ribu dan seterusnya. Tapi saya tekankan ke bawahan saya, jangan sampai orang membeli CD di KFC kapok, harus dipastikan kualitas CD bagus, lagu-lagunya juga bagus. Orang suka memandang, indie band itu lagunya suka aneh-aneh, saya tidak ingin itu. Harus mudah didengar dan enak dinikmati.

Saya ambil genre pop, harus easy listening, karena saya yakin yang membeli CD musik di KFC bukanlah penggemar musik. Apalagi saya memang sukanya musik pop.

Kala penjualan kami mencapai 100 ribu CD per bulan, mulailah label-label ini melirik KFC. Ha..ha..ha. Saya mulai didekati Sony Music, itupun mereka tidak menyodorkan artis bagusnya, tapi Cinta Laura. Tapi buat saya, tidak apa, boleh, coba saja. Lagunya easy listening, suara not bad, anak muda, imej Cinta Laura pun bagus. Dia kan market KFC banget.  Dulu Cinta tidak mau dibilang artis Kentucky , tapi artis Sony. Saya ingat sekali itu. Ternyata penjualan CD dia di KFC bagus, bisa terjual 80 ribu hingga 90 ribu CD per bulan. Sejak itu dia mau tuh beriklan dengan KFC.

Kabar itu terdengarlah ke mana-mana. Setelah itu artis-artis besar lainnya mau kerjasama dengan KFC. Terakhir datanglah Pak Ook (panggilan akrab Johanes Soerjoko, Direktur dari Aquarius). Saya bilang, kalau mau ketemu saya, jangan kasih saya artis ecek-ecek. Dia bilang, tidak saya mau tawarkan best of the best: Agnes Monica. Itu sekitar awal tahun lalu. Oke saya bilang, kita bisa bicara. Agnes, saya ajak untuk bantu iklankan produk. Itu jadi power negosiasi. Saya bilang saya punya budget Rp 3,5 miliar lho untuk promosi, tapi harus promosi ayam Kentucky juga. Saya bilang harus mau muncul pada tiga menit terakhir di iklan Kentucky . Agnes harus makan ayam kami juga.

Karena sebelumnya Indah Dewi Pertiwi berhasil menjual CD di kami hingga 1 juta keping CD, maka itu Agnes tidak mau kalah. Dan mau mendengarkan arahan kami. Indah itu fenomenal, kebetulan artis baru. Video klip Indah itu biayanya Rp 7 miliaran, artis dancing, bagus suaranya, Pak Nyoto produsernya juga gila-gilaan membiayai dia. Dan kebetulan laku juga kami jual CD-nya. Jadi setelah dapat Cinta Laura, kami dapat IDP (Indah Dewi Pertiwi), lalu dapat Agnes. Sekarang penjualan CD Agnes sudah mencapai 1,9 juta keping. Kemudian kami dapat Rossa, Slank, Ahmad Danny, Ungu dan sebagainya. Tapi kebanyakan saya dapatnya lagu-lagu best-of the best mereka.

Lalu apa yang akan Anda lakukan ke depan?

Tahun depan saya tidak mau lagi best of the best album mereka. Tapi harus dengan konsep sendiri. Tahun 2013, saya ingin album yang hanya ada di KFC, itu harus digarap label. Contoh saya ingin keluarkan album artis besar cross genre, atau membuat album cross label lagu-lagunya. Sekarang label sangat fleksibel sekali. Mereka mau mengikuti konsep saya. Setiap tiga bulan sekali saya panggil label. Saya paparkan bagaimana kondisi pasar musik kita. Ini lho begini. Kalau mereka mau gue-gue sendiri, kita akan mati. Begitu saya bilang ke mereka, tapi kalau kita mau fleksibel kita bisa memenangkan pasar. Apalagi kita harus melawan pembajakan. Saya baru dapat Uthe (Ruth Sahanaya), next Krisdayanti dan juga kakaknya, Yuni Shara.

Kami akan launching Noah Band, band-nya Ariel pada 22 September itu. Dia mau jualan Kentucky juga sambil meluncurkan CD-nya. Smash terjual 1 juta CD. Jadi, KFC memang sudah dipandang oleh banyak pihak. Saya punya dua label: Music factory adalah wadah atau label untuk artis-artis yang tidak memiliki label. Sedang Sangkar Mas adalah label yang dikhususkan untuk kerjasama dengan label-label besar.

Kreativitas yang Anda lakukan, dengan combo bisa membeli CD, misalnya? Ide itu darimana sih?

Combo-combo itu saya yang buat. Saya memang yang meluncurkan ide-ide itu semua. Karena saya kan tidak melakukan rutinitas, kerjaan yang rutin itu biasanya saya lempar ke bawah. Makanya saya bisa membuat yang aneh-aneh, he..he..he.

Tapi mulai tahun ini saya mengajak jajaran saya untuk berinovasi juga. Saya berfikir apa yang terjadi kalau saya tidak ada. Saya sedang mengajarkan, mulai dair top manajemen hingga kru yang tugasnya hanya mengelap meja untuk memasukan ide dan inovasi. Karena Kentucky , menurut imej brand-nya, termasuk inovatif brand. Inovatif brand itu sedikit, Apple yang paling fenomenal. Dibilang inovatif brand, dihitung berapa sering brand itu melakukan inovasi.

Kami paham, pelanggan KFC itu ingin sesuatu yang berbeda, tidak monoton. Apple kan bukan penemu MP3 atau laptop, dia hebat, membuat yang sudah ada menjadi fashionable dan high class. KFC sadar, jika hanya jualan ayam saja, akan tergilas. Semua produk yang sudah menjadi gaya hidup, saya yakin itulah yang nilainya naik. Saya ingin KFC seperti itu.

Kalau menu KFC itu inovasinya itu sebenarnya kombinasi dan modifikasi menu lama. Hanya saja orang suka lupa. Kami membuat semacam satu payung namanya Praktis, maksudnya menu KFC itu harus mudah dimakan dan bisa dibawa ke mana-mana. Itu panduannya. Dengan kreasi menu itu, meningkatkan penjualan kami hingga 300% dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan untuk mereka yang suka pada produk organik saya sedikan nasi organik. Saya punya kerjasama dengan sentra produksi 10-11 yang kami beri pembinaan langsung dari KFC. Tahun depan kami akan sediakan ayam organik juga.

Bagaimana dengan lay out KFC?

Saya memang membuat desain khusus, semua dibuat berbeda. Suasananya harus nyaman, sofanya harus enak diduduki. Beberapa tempat yang ada KFC Coffe saya sediakan panggung khusus stand up comedy. Sebelumnya, saya adakan Nobar (nonton film bareng)  dan Jamming (musik). Saya sedang siapkan yang baru. Nanti akan terlihat jika ada KFC bersebelahan dengan McDonalds akan terlihat perbedaannya. Saya sedang siapkan untuk 2013.  Intinya: apa yang mereka mau saya siapkan di KFC.

Lalu bagaimana mendorong anak buah untuk inovatif?

Kami punya buletin, yang isinya cerita tentang KFC, juga apa yang akan terjadi. Kami juga mendorong suasana kerja yang menyenangkan. KFC bukanlah milik Fabian, tapi milik kalian semua. Ide yang luar biasa itu saya yakini dari yang paling sederhana. Ini saya dorong ke semua anak buah. Saya selalu sampaikan ke mereka, waktu saya ini terbatas, saya harus mendelegasikan ke banyak orang agar KFC terus berkembang.

Akan seperti apa KFC ke depan?

Saya tidak mau orang berpendangan, bahwa KFC adalah retailer CD. CD adalah sebagian kecil dari musik. Mulai tahun 2013 kami akan upgrade music program kami. Kami mulai menyeleksi artis-artis Kentucky . Kami ingin seberapa besar kontribusi mereka. Saya juga dorong tim untuk menyalurkan ide untuk mengembangkan apa saja yang baru yang bisa kita garap. Saya punya business development, human resources development, customer orientation. Kami mengajak orang-orang di bawah saya, untuk berfikir tidak sama. Harus berbeda dengan yang dilakukan kompetitor. Hal yang biasa dilakukan orang, akan saya drop. Dari 18 ribu karyawan saya, saya yakin akan banyak ide terbaik keluar dari mereka.

Apa yang dilakukan adalah hal simpel. Bukan hal yang memusingkan. Kalau ingin inovasi, saya harus pahami customer itu maunya apa? Saya harus pahami itu. Saya kasih yang lebih dari itu. Anak-anak muda Indonesia itu paling advance, ini terlihat dari setiap gadget baru datang, selalu diserap mereka.

Saya pernah dibilang oleh KFC pusat (world wide)sekitar 8-10 tahun lalu: Hati-hati KFC Indonesia, kalau idemu terlalu advance nanti customer-nya tidak bisa terima. Saya bilang ke mereka: kalian salah, konsumen Indonesia itu sangat suka di-challenge, mereka sangat advance. Saya sudah sering berantem sama mereka (head quarter) ha..ha..ha..ha.

Menariknya, KFC yang seperti di Indonesia , jualan CD itu tidak ada, hanya ada di sini saja. Inilah keunggulan KFC, image Fabian itu melekat sekali dengan KFC, tapi juga kelemahamnya. Saya menjadi terbebani, harus memberikan yang terbaik. Ke depan kami juga akan ajak kerjasama dengan gadget. Tapi masih dalam pembicaraan panjang. Dan akan ada konser khusus artis KFC di stasiun TV, saya sedang dalam pembicaraan dengan beberapa stasiun TV.

 Bagaimana kinerja KFC?

(Tanpa menyebut angka) KFC menjadi the most favorite brand. Tempat nongkrong paling digemari dalam waktu 3 tahun terakhir untuk remaja, itu dari tracking kami sendiri. Perpindahan customer dari kompetitor ke KFC sangat tinggi, 11% dalam setahun. Sekarang penjualan CD kami 850 ribu keping per bulan. Angka penjualan CD kami sebulan, itu lebih besar dari angka penjualan CD nasional setahun, lho. Makanya semua label mendekat. Saya sangat apresiasi, tapi saya harus menghargai artis yang sudah lebih dulu ada dan bersama kami. Contohnya Rossa dan Dewa itu dua contoh artis yang dedikasinya luar biasa kepada KFC. Memang sekarang kami jadi pemilih.  Sekitar 90% pembeli kami itu bukan karena CD-nya tapi karena paketnya yang menarik ha..ha..ha…(Didin Abidin Masud)

ditulis oleh Herning Banirestu
Link: SWA

Iqbal Farabi menebar jala di berbagai lini bisnis

Jika ada orang yang memberi masukan bahwa berbisnis itu harus fokus, maka masukan itu jelas tidak dipakai oleh Iqbal Farabi. Di bawah bendera PT Benang Komunika Infotama (Bcomm), entrepreneurberusia 33 tahun ini justru menebar jala di berbagai lini bisnis.

Bahkan saat ditanya core bisnis Bcomm, beginilah jawaban lulusan S2 Hukum ini: “Telco Network Service, IT Solution, Integrated Media, pertambangan, restoran termasuk juga franchise Takigawa di Batam dan Binus Jakarta, fotografi, event organiser, hingga jualan kompor nabati.”

Awal mendirikan Bcomm, tepatnya September 2003, Iqbal percaya betul jika berbisnis itu harus fokus. Baru sejak tahun 2007, perusahaan yang bermarkas di Arteri Pondok Indah ini mau menangkap berbagai peluang bisnis yang ada.

“Saya mengambil ilmu dari pengusaha-pengusaha China , India dan negara lainnya yang justru tak pernah ragu menebar jala. Akhirnya saya mulai menebar jala juga. Dapat ikan tongkol, tim tongkol yang menjalankan. Dapat ikan teri, tim teri yang menangani. Dapat ikan kakap, tim kakap yang menggarap. Yang terpenting adalah fokus terhadap bisnisnya, bukan fokus pada bidang usahanya,” jelas pengoleksi uang koin kuno ini.

Selain tidak pernah ragu menebar jala, dalam berbisnis ia juga mempercayai prinsip “ATM” (amati, tiru dan modifikasi). “Misalkan ada peluang di bisnis restoran, saya melihat apa yang sedang tren. Kemudian saya mempelajari ilmu restoran. Saya bentuk tim yang khusus fokus menggarap bisnis restoran, bentuk Research & Development-nya. Tentukan sanggup atau tidak membuat brand sendiri. Jadi buat saya dalam berbisnis adalah amati, tiru dan modifikasi,” kata pria kelahiran 2 februari 1978 ini.



Dan tak lupa, sebagai seorang entrepreneur, bagi bapak tiga anak ini selalu mempunyai mimpi. Ketika mimpi itu sudah bisa digapai, harus memiliki mimpi baru lagi. Ia mencontohkan, jika sahabatnya, Anindya Bakrie, lahir tertawa terbahak-bahak, maka Iqbal menangis tersedu-sedu.



“Bapak saya seorang PNS biasa, namun sejak kecil saya selalu punya mimpi. Ketika SD saya bermimpi ingin punya uang jajan, saya lalu menjual jawaban dari pekerjaan rumah (PR) ke teman-teman. Bermimpi kuliah, saya lalu mencari-cari beasiswa dan akhirnya bisa kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta . Bahkan saya ditawari melanjutkan S3 saya oleh UPH, namun saya memilih berwirausaha,” ujar pria asal Sumatera Barat yang mengaku mengidolakan Jusuf Kalla dan Chairul Tanjung. (Lila Intana)

ditulis oleh Lila Intana
Link: SWA

D'Cost: Aplikasi TI di Resto Seafood

D’Cost bisa dikatakan merupakan resto seafood paling inovatif di kelasnya. Sesuai dengan motto-nya “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima”, inovasi yang utama dari resto ini adalah harga makanannya yang tergolong murah dengan kualitas yang bisa dijajarkan dengan resto seafood di hotel bintang lima . Untuk menjadikan harganya murah, D’Cost harus mengefektifkan dan mengefisienkan operasional kerja. Salah satu caranya dengan menggunakan perangkat dan sistem TI dalam hal pemesanan tempat dan pemesanan makanan. Dengan menggunakan Ipod yang terhubung dengan sistem pemesanan dan pendelegasian menu ke bagian dapur, maka proses memasak makanan fresh bisa lebih cepat dilakukan. Kecepatan menjadi hal utama di D’Cost. Selain sebagai bagian dari pelayanan ke pelanggan, sistem ini juga dibuat agar dapat mengundang pengunjung lebih banyak lagi sehingga skala ekonomi bisa tercapai.

Didirikan pada 9 September 2006, D’Cost berkembang hingga saat ini memiliki 57 gerai di 17 kota besar di Indonesia . Selain itu, pihak D’Cost juga mengklaim diri sebagai resto pertama dan satu-satunya yang menggunakan aplikasi TI ke dalam manajemen restoran. Dengan aplikasi TI ini manajemen dapat dengan mudah memantau kegiatan restoran dari mulai logistik, penjualan, pembukuan, hingga keamanan di semua gerai secara real time online. Penggunaan TI ini juga disediakan untuk kenyamanan pengunjung resto. Sejak 2010, pengunjung dapat melakukan self ordering melalui iPad tanpa perlu menunggu pelayanan datang mencatat pesanan.

Bertempat di kantor D’Cost di wilayah Sunter, David Vincent Marsudi, Presiden Direktur PT Pendekar Bodoh ditemani Eka Agus Rachman, General Manager Promoton & PR PT Pendekar Bodoh menerima reporter SWA, Darandono dan Denoan Rinaldi, di salah satu ruang di kantor D’Cost Jalan Danau Sunter Barat Blok A3 No. 2 pada Rabu (26/9). Berikut wawancaranya:
Bisa Anda jelaskan  ide mendirikan resto seafood di mal. Padahal,  kebanyakan resto seafood berada di luar mal?

Seafood diasumsikan sebagai makanan mahal. Seafood yang agak murah dijual di pinggir jalan, warung tenda di trotoar. Sejak awal kami berpikir, mengapa seafood dijual mahal? Padahal Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan produk laut, termasuk seafood. Itu salah satu idenya, mengapa kami memilih seafood sebagai lahan bisnis. Kami ingin menyajikan seafood dengan kualitas baik masyarakat bahwa hanya kalangan berduit saja yang bisa makan seafood karena harganya yang memang mahal. Ini yang menggelitik kami, mengapa di Indonesia tidak ada yang menjalani bisnisseafood murah tapi dengan kualitas baik. Ini yang kami coba jalani. Memang terdapat berbagai kendala ketika menjalaninya. Namun kami terus coba perbaiki.

Mengapa lokasi D’Cost terdapat di mal? Sebenarnya gerai D’Cost juga ada yang stand alone. Kombinasi, ada yang di mal dan stand alone. Mengapa ada di mal? Karena kami lihat kecenderungan gaya hidup orang saat ini senang belanja di mal. Di samping belanja, masyarakat juga cari makan di mal. Dulu, resto yang banyak terdapat di mal adlah resto fast food. Jadi, kami pikir, mengapa kami tidak coba menyediakan sesuatu yang lebih sehat ke masyarakat dengan makanan yang baru dimasak setelah dipesan.
Bagaimana mengenai kreativitas dalam hal menu?

Sejak awal memang kami menyajikan menu yang cukup beragam. Kami coba memahami konsumen dengan memosisikan diri sebagai konsumen. Hal sederhana itu yang kami lakukan. Setelah mengetahui kesukaan konsumen, apakah kami bisa menciptakan makanan itu? Selain itu, karakter konsumen yaitu menginginkan barang yang bagus dan murah. Rata-rata orang menginginkan best deal. Sebagai pengusaha kami mengikuti pola pikir konsumen. Hal ini tercermin dari motto kami “Mutu bintang lima , harga kaki lima ”. Kami coba penuhi itu terus, walaupun memang kami belum bisa memenuhi semua. Namun kami berusaha untuk memperbaiki diri setiap saat agar janji kami ke masyarakat bisa terpenuhi.

Apakah ada penambahan menu tertentu pada periode tertentu?

Ya, kami memliki divisi R&D untuk menu. Secara berkala kami ciptakan menu-menu yang kira-kira memang disukai masyarakat. Saat ini ada sekamir 100 menu makanan dan minuman.

Dalam periode waktu berapa lama ada penambahan atau penggantian menu?
Agar konsumen tidak bosan, kami lihat dulu kinerja menu tersebut. Kami ada menu ranking. Jadi menu-menu yang sudah masuk ranking bawah, ya kami keluarkan. Kalau ada menu yang dianggap sudah jenuh, maka menu itu akan diganti. Substitusi atau penambahan menu dilakukan sekamir 3 sampai 6 bulan sekali. Idealnya, setiap tiga bulan, paling tidak terdapat 5-10 menu makanan dan minuman baru.

Selain itu, D’Cost juga memiliki menu spesial atau khas daerah. Karena D’Cost berada di 17 kota , kami sadari bahwa di Indonesia terdapat sedemikian banyak suku yang memiliki taste sendiri-sendiri. Jadi ada beberapa menu lokal dan menu nasional. Menu lokal di tiap daerah biasanya tidak dominan. Tidak boleh lebih dari 20%.

Mengapa diterapkan pola seperti ini?

Harus ada menu nasional agar masyarakat tahu D’Cost. Namun kami menampung aspirasi dari masyarakat setempat yang memiliki kebiasaan dan cita rasa yang berbeda dengan masyarakat di daerah lain. Jadi, kami berusaha mengakomodasi hal ini dengan pendekatan memberi porsi maksimal20% bagi masakan yang ber-taste lokal. Contohnya, di Surabaya ada menu-menu yang memang berbeda dengan daerah lain, seperti ikan Sukang di Surabaya. Untuk di Makassar, biasanya beda di saus.

Dari mana ide menu-menu baru tersebut?

Berasal dari masukan. Kami mencoba budaya di mana orang di bawah bisa memberi inspirasi ke atas. Bukan satu arah dari atas ke bawah. Kami mengharapkan orang-orang di bawah merasa bahwa D’Cost merupakan tempat mereka mencari sandang pangan sehingga mereka betul-betul berjuang di divisinya. Jadi dia akan selalu memonitor lokasi di daerahnya sehingga mereka akan memberi usulan ke atas.

Jadi ada kemungkinan menu lokal untuk jadi menu nasional?

Kalau memang digemari, bisa begitu. Contohnya Rica dari Makassar . Kemudian kami ciptakan makanan yang kira-kira disukai oleh orang Jawa dan Sunda karena dua suku ini yang paling banyak populasinya.
Bagaimana proses memberi masukannya? Misalnya dari konsumen?

Konsumen biasanya memberi masukan melalui saluran ‘SMS complaint”. Kalau banyak konsumen yang memberi masukan terhadap menu tertentu, itu jadi bahan pertimbangan kami untuk menciptakan menu. Biasanya kami coba menu tertentu di daerah-daerah tertentu. Kami lihat responsnya. Kalau menu tersebut kami anggap responsnya bagus, maka kami angkat menjadi menu nasional.

Berapa presentase antara menu yang dibuat R&D dan usulan konsumen?

R&D sendiri, ketika akan membuat menu baru, mereka juga mengamati pasar. Kami selalu mengembalikan apa yang diinginkan konsumen. Bukan apa yang diinginkan kami.

Berarti melihat menu unggulan di resto-resto yang lain juga?

Ya. Tapi beda di harga, ha..ha..ha.. Saya juga mencoba menu, misalnya ikan patin, yang ada di restoran China di Hotel Shangri La Surabaya , Crystal Jade. Mereka menjual harga masakan ikan patin tersebut sekamir Rp 150 ribu karena mereka menggunakan koki dari Hongkong yang biayanya mahal. Sementara harga ikan patin kami, dengan rasa yang sama harganya hanya Rp 25 ribu.
Bagaimana mengenai jam buka resto yang tidak harus buka setiap saat?

Itu bergantung pada daerahnya. Kalau gerai di mal, saat ini 100% buka full day, yaitu buka dari pukul 11.00 hingga 21.00. Namun memang terdapat beberapa gerai stand alone (bukan di mal) yang kami tutup antara pukul 15.00-17.00 saat week day. Hal ini kami lakukan berdasarkan evaluasi di mana pada jam itu, yang memang bukan jam makan. Hal ini dilakukan atas alasan efisiensi. Dengan menjual produk murah, kami sebagai perusahaan harus bisa efisien, karena jika kami tidak efisien maka dampaknya akan dialami masyarakat dengan harga yang tinggi. Saat ini lebih banyak gerai yang di mal dibanding stand alone. Sekamir 85% gerai kami berada di mal. Namun pada saat weekend, gerai yangstand alone buka full day.

Berapa jumlah cabang saat ini dan bagaimana target pertumbuhannya?

Saat ini 57 cabang dan akan buka sesuai dengan angka belakang tahun. Misalnya, tahun ini tahun 2012, maka kami targetkan akan buka cabang sebanganyak 12 cabang. Pada 2013, kami targetkan akan buka 13 cabang.

Mengapa dilakukan pola seperti ini?

Biar mudah untuk mengingat. Ha..ha..ha..

Bagaimana kreativitas di bidang TI?

Sejak awal berdiri, ketika belum ada Ipod, kami menggunakan PDA untuk memesan pesanan. Setelah Ipod keluar, kami beralih menggunakan Ipod karena Ipod lebih murah dari PDA. Namun saat itu, ketika kami menggunakan Ipod sebagai sarana untuk memesan makanan, hal itu belum umum dilakukan resto lain sehingga Manajer Pemasaran Apple dari Singapura, datang ke Jakarta . Dia menanyakan mengapa barangnya bisa digunakan oleh kami sebagai sarana order makanan. “Sudah saya protect, kok you bisa pakai buat order?”, kata manajer itu. Saat itu kami jailbreak Ipod itu. Saat ini kami jadi teman. Kami juga menggunakan Ipad untuk order saat ini.

Mengapa menggunakan teknologi canggih untuk perusahaan yang bisnisnya hanya mengumpulkan “uang receh”?

Pertama, kam ingin efisien. Dengan kami mengumpulkan uang recehan ini, otomatis omzetnya harus besar sehingga jumlah tamu harus banyak. Dengan jumlah tamu yang harus banyak, sementara jam makan cukup terbatas, maka kami harus cepat dalam pelayanan. Agar dapat cepat, harus menggunakan teknologi.



Kalau order menggunakan tulisan tangan, tidak bisa. Tidak mungkin kami menjual teh harga seratus  jika kami tidak cepat. Skala ekonominya tidak akan tercapai karena jam makan orang sangat terbatas.



Prosesnya, begitu tamu memesan dan pelayan kami menekan ‘enter’ di perangkatnya, printer-printerkami di bar, di checker, di bagian steam, di bagian gorengan, langsung mencetak  pesanan itu dan pekerja kami langsung membuat sesuai pesanan yang dicetak. Jadi pendelegasian menu pesanan langsung tertuju ke bagian yang bersangkutan. Kami bisa menyajikan masakan dengan cepat karena kami terbantu dengan sarana TI ini.



Saat ini, kami gunakan model terbaru layar sentuh. Bukan print lagi. Kami sudah mulai coba di gerai Sunter dan Semarang . Gerai di Semarang terdapat 23 komputer. Kami hanya jualan kangkung tapi komputernya ada 23.



Berapa persen efisiensi yang dapat dilakukan?

Untuk perubahan dari cetak ke paperless baru kami lakukan. Kami masih cari pola. Tapi yang penting efektif dulu. Saat ini kami anggap kami butuh 23 komputer. Namun nanti kami evaluasi. Kalau nanti bisa dikurangi pemakaiannya, maka nanti kami kurangi. Tapi kalau tidak bisa dikurangi, maka kami akan gunakan dalam jumlah tersebut. Komputer-komputer tersebut untuk reservasi, monitor antrean, untuk kasir di gerai Semarang yang terdapat 2 lantai, untuk reservasi menu dan lainnya. Dengan teknologi yang makin maju nantinya, mungkin komputernya dapat disusutkan.

Nantinya sistem touchscreen juga akan diterapkan di tiap cabang D’Cost. Dengan rencana kami Go International pada 2015, maka saat ini kami berusaha untuk mengubah manajemen dari kelas kampung menjadi kelas internasional.



Bagaimana kreatifitas dari sisi promosi?

Satu hal yang mendasar dan membedakan antara D’Cost dengan perusahaan lain adalah nilainya. Perusahaan lain menerapkan nilai ‘take and give’. Nilai ini sudah dianggap fair. Sementara yang kami jalankan di D’Cost adalah ‘give and receive’ yang seperti kasih ibu, memberi tak harap kembali. Contoh aplikasi dari ‘give and receive’ ini kami terapkan di semua promosi D’Cost. Contohnya, setiap kami buka outlet baru ada promosi ‘up to you price’, yaitu makan sesukanya dan bayar sesukanya. Setelah hari ini mereka datang dan keesokannya mereka tidak datang lagi, tidak masalah buat kami. Itu yang dimaksud give.

Demikian juga dengan diskon umur. Saat ini rekor umur tamu yang datang yaitu 104 tahun. Jadi selesai makan, saya kembalikan 4%. Ha..ha..ha. Promo ini diberlakukan untuk satu meja. Waktu itu bersepuluh. Pada saat promosi itu, banyak manajer kami yang dipanggil oleh opa-oma itu. Mungkin mereka tersentuh sehingga kami didoakan agar bisnis kami maju. Diskon umur ini sudah 3 tahun berjalan. Tiap bulan ada 3-4 outlet yang menwarkan promo ini. Doa dari orang tua ini yang membuat D’Cost maju. Jarang ada perusahaan yang didoakan orang.



Mengapa tidak dilakukan di tiap outlet?

Tidak mampu. Kemampuan kami belum sampai situ. Penentuan outlet mana yang akan menyelenggarakan promo, kami atur agar setiap outlet kebagian.

Kembali lagi ke promo ini. Terdapat nilai lebih di balik penerapan promo ini. Manajer kami menanyakan ke opa-oma itu apakah mereka senang dengan promo ini? Mereka mengatakan senang karena jika tidak ada promo ini, mereka tidak akan diajak keluar untuk makan oleh anak mereka. Ini pernyataan tulus dari orang tua. Terdapat nilai positifnya yaitu menyentuh anak untuk mencintai orang tua.

Mengenai promosi uang dan doa, separuh bayar menggunakan uang dan separuhnya menggunakan doa pada saat hari keagamaan? Doanya bisa untuk apa dan siapa saja. Doanya ditulis di kertas dan nanti akan diunggah di facebook dan website.



Mengenai promosi “Hamil Baru Bayar”, banyak pertanyaan yaitu bagaimana jika setelah pasangan itu menikah, mereka pindah kota atau KTP-nya ternyata palsu. Apa antisipasinya? Jawaban kami ialah kami tidak pernah mengantisipasi. Kami pasrah saja. Ini kesadaran saja. Dalam promosi ini juga terdapat nilai-nilai spiritualnya, yaitu agar masyarakat mulai tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu dari hati nurani. Pengalaman kami selama ini, belum ada pasangan yang mengaku hamil. Ha..ha..ha. Kami tidak pernah mengecek ke pasangan itu bahwa istrinya sudah hamil atau belum.

(Eka Agus Rachman) Promo HBB ini termasuk promo yang tinggi okupansinya. Banyak orang yang menanyakan apakah promo ini akan diperpanjang hingga tahun depan atau tidak, karena kami harus melihat efektifitas dan tanggapan masyarakat secara luas. Dalam sebulan tiap minggu pasti ada yang mengikuti promo ini. Sampai-sampai banyak orang yang memohon untuk memesan tanggal tertentu di mana banyak orang lain juga memesan.

Mengenai donor darah, sebenarnya merupakan bagian dari program D’Cost Peduli. Saat ini terdapat 57 cabang. Sementara dalam setahun hanya 52 minggu. Kalau kami melakukan donor darah pada saatoutlet-outlet kami ulang tahun, maka setiap minggu, bahkan ada yang seminggu dua kali, akan ada donor darah. Program donor darah ini kami gabung dengan saat promo. Pada saat promo, ribuan orang datang. kami siapkan tempat untuk donor darah. Bagaimana caranya agar orang tergerak hatinya untuk mendonorkan darahnya? Kami kolaborasi dengan promo kami, yaitu tidak usah antre bagi yang mendonorkan darahnya. Setidaknya kami memberi satu nilai spiritual lagi.



Sebenarnya donor darah ini, bisa dilakukan lebih sering lagi jika digabung dengan promo-promo kami yang lainnya. Namun kendala kami adalah tidak semua PMI bisa membantu karena mereka mungkin terkendala sarana. Dalam pelaksanaan donor ini, kami sampai dibantu oleh PMI Serang karena PMI Jakarta juga kewalahan. Kalau semua perusahaan di Indonesia mau melakukan seperti apa yang D’Cost lakukan, tidak akan ada kekurangan darah.

Mengenai budget ordering, kami bisa memasukkan jumlah tamu dan bujet, maka dalam 2 detik akan keluar usulan menunya. Ini sangat membantu bagi pelanggan rombongan karena jika pelayan harus menanyakan menu satu per satu ke anggota rombongan, maka akan makan waktu lama. Selain itu, pelanggan bisa memesan menu tanpa harus kelebihan bujet. Keuntungan lainnya, pelanggan tidak perlu khawatir terhadap menu karena menu yang ditampilkan merupakan menu favorit dan pasti sesuai. Saat ini kami tengah memproses aplikasi ini di sistem operasi di Iphone. Namun masih belum turun dari sananya. Untuk sistem operasi Android dan Blackberry, sudah berjalan.



Jadi dengan aplikasi ini, pelanggan bisa memesan tempat dan menu melalui aplikasi budget ordering ini yang ada di smartphone mereka. Misalnya, setengah jam sebelum tiba di D’Cost tujuan, pelanggan bisa memesan via aplikasi ini. Setelah di-upload dan dibaca oleh manajer di gerai D’Cost, maka pesanan akan langsung diproses. Dalam pesanan dari pelanggan yang ada di aplikasi itu, terdapat nomor kontak pemesan dan nanti manajer gerai akan menghubungi pemesan tersebut untuk mengkonfirmasi mengenai pesanannya. Untuk lebih memudahkan, nanti akan dibuat pre-paid cardD’Cost agar pesanan bisa langsung dapat diproses, tidak khawatir pesanan dibatalkan atau pemesan tidak datang. Pre-paid card ini rencananya akan diluncurkan tahun depan.



Mengenai Diskon Gerombolan, dulu kami pernah kedatangan gerombolan 99 orang dan kami diskon 99%.  Selain itu, rekor lainnya ialah gerombolan 130 anak SD dan gurunya, setelah makan mereka cuma bilang: “Matur nuwun,”  ha..ha..ha. Program ini waktu itu dilakukan dua bulan setiap Kamis di gerai-gerai tertentu.

Kami memberikan berbagai macam promo ini agar masyarakat tidak jenuh. Yang mendasari semua ini adalah nilai give and receive, makanya promonya bisa wow karena ada nilai ini.



Modifikasi promo-promo dilakukan dalam berapa lama sekali?

Untuk Up to you Price sudah berjalan 6 tahun. Diskon Umur sudah berjalan 3 tahun. Promo yang lainnya baru berjalan pada tahun ini. Nantinya kami akan ciptakan promo baru lagi tiap tahunnya.



Bagaimana menggali ide-ide kreatif tersebut?

Ide itu bisa muncul setiap saat. Juga bisa tidak muncul. Seperti seniman, kalau sedang tidak moodmaka ide tidak muncul. Dalam melahirkan ide kreatif, syarat mutlak di kami adalah belum pernah dilakukan orang lain. Jadi kami selalu mencari yang belum ada
Siapa motornya ide kreatifitas?

Bisa dari siapa saja. Di sini kan orang setengah gila semua, ha..ha..ha.



Jadi ide bisa muncul dari siapa saja di masing-masing divisi?

Ya. Kami sering lakukan brainstorming. Jika ada ide, langsung kami lakukan itu. Namun brainstormingtidak bisa dijadwalkan. Jika dijadwalkan, ide belum tentu muncul.

Bagaimana peran pemimpin dalam mendorong munculnya ide kreatif?

Nama PT kami yaitu PT Pendekar Bodoh. Jadi, yang paling bodoh ditaruh di atas, yang lebih pintar taruh di bawah. Nah, yang pintar-pintar adalah anak-anak ini. Saya bodoh sendiri ha…ha..ha.

(Eka) Mengenai ide-ide promosi memang diolah oleh tim. Misalnya, Pak David memiliki ide promo tentang uang dan doa. Ide itu dilempar ke kami dan kami memberi masukan. Syarat ide yang bisa diimplementasikan yaitu tidak pernah dilakukan orang lain, unik, dan memiliki efek wow.

Bagaimana passion pemilik dan pemimpin D’Cost dalam mengembangkan kreativitas?

Pemilik D’Cost terdapat beberapa orang. Passion mereka sangat tinggi dengan memberikan keleluasaan ke manajemen untuk memutuskan.



Bagaimana melibatkan karyawan untuk berkreasi?

Biasanya mereka memberi usulan secara tidak formal karena di perusahaan ini budaya yang berkembang yaitu tidak formal. Kami menganggap semua karyawan sebagai teman dan keluarga.

Bagaimana merangsang keluarnya ide-ide?

Memang ketika kami tengah banyak terbebani urusan operasional, maka ide tidak muncul. Ide-ide bisa muncul, biasanya, pada saat weekend, ketika beban di otak sudah mulai berkurang.



Bagaimana proses merespons ide yang muncul?

Misalnya pada ide promo. Misalnya ada ide, bisa dilontarkan melalui milis manajemen. Bisa juga dilontarkan melalui Blackberry Grup. Jadi proses brainstorming bisa kami lakukan di mana saja dan kapan saja melalui saluran teknologi. Kalau orang-orang harus dikumpulkan dulu untuk brainstormingakan sulit melakukannya karena masing-masing memiliki kesibukannya sendiri-sendiri. Dengan adanya teknologi, brainstorming bisa dilakukan kapan saja. Saat ini saya mengikuti ada 20 grup BBM untuk urusan D’Cost saja.



Bagaimana implementasi dan evaluasi ide-ide yang muncul tersebut?

Kami langsung tindaklanjuti dengan membicarakan strategi pelaksanaannya. Kami tidak membicarakannya hingga detil dan langsung menjalankannya. Bersamaan dengan dijalankannya ide itu, kami lakukan perbaikan-perbaikan melalui evaluasi. Misalnya ide muncul dari manajer, kemudian diteruskan ke area General Manager, kemudian diteruskan ke forum manajemen pusat. Namun pembicaraan di Grup BBM itu juga bisa dimonitor oleh kami. Setelah ide itu ditangkap oleh yang di atas, kemudian kami jabarkan apa yang harus dilakukan agar bisa dijalankan. Prosesnya berjalan simultan, sesuai dengan salah satu nilai di D’Cost yaitu speed. Terdapat prioritas untuk menjalankan ide. Yang penting dijalankan dulu. Kami juga lakukan evaluasi seiring dijalankannya ide tersebut.



Bagaimana hasil yang bisa dilihat dari kreativitas ini?

Output dilihat dari respons masyarakat yang bisa dilihat dari kunjungan masyarakat ke outlet. Ide ini ternyata diterima masyarakat dan kami akan menjalankan terus.



Bagaimana dampak kreativitas terhadap kinerja bisnis? Bisa digambarkan pertumbuhannya?

Dengan masyarakat yang makin respek kepada kami, maka outlet kami kebanjiran tamu. Kalau masyarakat sudah tersentuh hatinya, maka mereka akan menjadikan kami sebagai pilhan utama. Mengenai pertumbuhan kinerja bisnis, bisa dilihat dari pertumbuhan outlet kami yang tumbuh sesuai angka tahun, seperti yang dijelaskan sebelumnya. Pada 2012, target buka 12 outlet. Pada 2013, target buka 13 outlet. Jika terdapat pertumbuhan outlet, otomatis terdapat overlapping antara satuoutlet dengan outlet di area yang sama sehingga tidak terjadi pertumbuhan pengunjung yang signifikan di satu outlet, tapi terdistribusi ke outlet lainnya. Setiap tahun pertumbuhan pendapatannya rata-rata 15%.



Bagaimana pertumbuhan pengunjung?   

Kisaran pertumbuhan jumlah pengunjung untuk gerai di Jakarta sekamir 300-500 tamu, bergantung di mana gerai itu berada. Jika gerai berada di perumahan maka gerai akan ramai pada weekend. Sedangkan jika gerai berada di area perkantoran, maka gerai itu akan ramai pada weekdays siang hari.

Sejauh mana kreativitas D’Cost bisa menggoyang pasar?

Ada pengaruhnya. Hal ini bisa dilihat dari respons masyarakat yang luar biasa. Namun, apakah respons ini bisa dikategorikan bisa menggoyang pasar, itu kami tidak tahu. Bisa dilihat jika mengetikkan kata kunci Diskon Umur, misalnya, maka respons yang keluar berasal dari masyarakat.

(Eka) Kami hanya ingin memberikan pengalaman baru pada masyarakat mengenai bagaimana kami melakukan promosi. Orang mungkin sudah sering mendengar atau bahkan ikut midnight sale atau diskon 50%. Tapi jika dilakukan oleh D’Cost. Itu yang kami berikan pada masyarakat. Ada nilai baru yang kami berikan pada masyarakat dan tidak sekedar promo. Itu menjadi nilai kami, selalu memberikan sesuatu yang berbedda kepada masyarakat.  Misalnya Diskon Umur, terdapat nilai-nilai baru yang disematkan di sana , yaitu nilai kekeluargaan. (Didin Abidin Masud)

ditulis oleh Denoan Rinaldi
Link: SWA

Kenny dan Kevin, kecil-kecil sudah berbisnis

Inspirasi membuka usaha bisa dari mana saja. Peluang itu ditangkap Kenny Kurniawan (14) dan Kevin (14), yang mengawali bisnis patungan membuat keripik siput (bekicot). Ide ini ia dapat ketika mengikuti kegiatan di sekolahnya, SMP Anugerah Pekerti, Surabaya .

Kala itu, guru mata pelajaran Etika Lingkungan, Bangun Pratomo, meminta Kenny dan Kevin untuk mencari tahu soal siput. Ketika tugas kelar, Bangun membuka pikiran Kenny dan Kevin bahwa binatang siput memiliki khasiat yang sangat tinggi dan baik untuk kesehatan.

Masukan gurunya semakin membuat rasa ingin tahu Kenny dan Kevin semakin besar soal manfaat siput. Keduanya memutuskan mencari manfaat lain dari siput di dunia maya. Setelah mendapat pengetahuan yang cukup, mereka yakin usaha siput cukup menjanjikan.

"Kita berpikir, olahan siput belum banyak orang lakukan. Akhirnya kita memutuskan bisnis olahan siput yang sangat menguntungkan. Apalagi dari segi pesaing sedikit sekali," ujar Kenny Kurniawan, manajer produksi Sipoet Zoen, kepada Tribun, di FX Senayan, Jumat (7/9/2012).

Usaha bersama yang dirintis Kenny dan Kevin dimulai pertengahan 2011. Sebelum memutuskan untuk menjadikan keripik berbahan baku siput, muncul diskusi di antara mereka. Setelah pikir-pikir, mereka memutuskan siput dibuat keripik sekaligus cemilan menyehatkan.

Dengan sabar, mereka berbagi tugas. Kevin dalam usaha ini bertugas sebagai juru masak. Ia mengaku suka sekali memasak karena besar di lingkungan keluarga yang dominan kaum hawa. Di lingkungan ini, Kevin ikut-ikutan belajar masak. Kemampuannya memasak menjadi modal Kevin.

Mengawali proses usaha ini bagi Kevin dan Kenny cukup mengasyikkan. Mereka sampai harus mencari tahu di mana mendapatkan bahan baku siput, cara mengolah, sampai memberikan cita rasa untuk siput. Karena tak mungkin mencari sendiri bahan baku siput, keduanya memutuskan untuk membeli siput yang dioven setengah matang.

"Untuk mengolah siput jadi keripik, harus dikeringkan. Kita memutuskan membeli siput yang setengah matang dioven. Lalu kita goreng sendiri dan langsung dikasih bumbu. Urusan masak memasak langsung saya yang menanganinya. Kalau Kenny pegang marketing," terang Kevin.

Keripik siput pertama olahan Kevin dibuat tanpa bumbu dan masih mempertahankan rasa orisinal. Keduanya memulai pemasaran dengan membawa keripik rasa orisinal ke sekolah. Mereka berdua meminta teman-teman dan guru untuk merasakan keripiki siput rasa orisinal.

Hasilnya, kebanyakan yang merasakan keripik siput orisinal produksi Kevin dan Kenny belum menerima. Keduanya tak putus asa. Justru dari teman-temannya di sekolah, mereka mendapatkan masukan. Tak sedikit dari teman-teman sekolahnya yang mengusulkan diberi bumbu keju biar ada rasanya.

Seusai sekolah, Kevin dan Kenny memutar otak. Mereka sepakat olahan keripik siput harus diberi bumbu. Ide menaburkan bumbu keju masukan dari teman-teman di sekolah ditampik Kevin. Menurutnya, siput sudah memiliki cita rasa tersendiri. Tapi, bumbu rasa keju tidak pas untuk siput.

Kenny langsung mengeluarkan ide, bagaimana jika siput diberi bumbu pedas. Ide ini lalu diterapkan Kevin dan hasilnya diterima banyak orang. Apalagi, teman-teman di sekolahnya suka dengan yang pedas-pedas. Muncullah ide untuk menamakan keripik siput pedas dengan keripik siput balado.

Setelah keripik siput balado banyak peminatnya, sebagai juru masak, Kevin melakukan eksperimen dengan mengolah keripik siputnya dengan rasa barbeque dan rasa lada hitam. Kevin dan Kenny puas setelah keripik mereka ternyata digemari adik kelasnya dan menjadi cemilan paling dicari di sekolahnya.

Berharap bisa diekspor

Usaha Kevin dan Kenny yang usahanya bermodalkan awal Rp 1,5 juta menjadi tak sia-sia. Ketika ada ajang Kidpreneur Award 2012 yang digagas Berani Magz dengan sponsor Permata Bank, keduanya lolos sebagai satu dari 10 tim finalis dari peserta di seluruh Indonesia sebanyak 250 tim.

Kegembiraan mereka makin lengkap setelah dewan juri memutuskan tim Keripik Siput sebagai juara kedua dan mendapat uang tunai Rp 10 juta. Bukan itu saja, tim Keripik Siput juga menjadi juara favorit versi Facebook dengan memperoleh hasil polling tertinggi. Untuk juara favorit, mereka mendapat Rp 1 juta.

Menurut panitia, penilaian mereka untuk gelar ini ditentukan dari berapa banyak orang yang mengklik tombol "Like" di foto para finalis. Hingga polling ditutup, sebanyak 1.415 orang telah memilih tim Kripik Siput ini. "Waktu itu kita berpikir juaranya cuma sekali, juara favorit," ungkap Kevin.

Salah satu nilai lebih tim ini, menurut salah satu dewan juri, adalah kemampuan mereka memaparkan produknya di depan khalayak umum. Mereka terlihat komunikatif dan luwes memasarkan produknya. Ditambah, mereka terlihat percaya diri tanpa canggung sedikit pun.

Selama menjalani usaha keripik siput, Kevin dan Kenny mengaku tidak kesulitan untuk pemasarannya. Mereka berdua menerapkan strategi lips marketing, pemasaran dari mulut ke mulut. Hasilnya luar biasa. Keripik yang mereka titipkan di kantin sekolah banyak digemari teman-teman.

Menurut Kenny, modal pertama sebesar Rp 1,5 juta sudah kembali. Modal itu awalnya dipinjam dari orangtua Kevin dan Kenny. Masing-masing patungan Rp 750.000. Untuk mengirit ongkos produksi, pertama kali mereka masih menggunakan kompor dan penggorengan milik orangtua mereka.

"Tapi sekarang modal yang kita pinjam sudah kita kembalikan kepada orangtua kita. Karena maju, kita juga sudah memiliki sendiri peralatan produksi, seperti kompor, penggorengan, sampai untuk packingproduk," terang Kenny sambil menambahkan bahwa usaha patungan ini mendapat dukungan keluarga.

Lewat usahanya, Kevin dan Kenny sudah membangun harapan bahwa produk keripik siputnya kelak dapat diekspor. Modal untuk itu terbuka setelah keduanya mendapat pengalaman berharga kala karantina di ajang Kidpreneur Award 2012. " Kan kita sudah dapat masukan dari kakak-kakak pengusaha," terang Kenny.

Presiden Direktur Berani Magz, H Witdarmono, menilai anak-anak yang menjadi finalis Kidpreneur Award 2012 sudah mengenal uang, tetapi tidak untuk menjadi materialistis. Pelajaran terpenting yang bisa diambil bahwa mereka tahu perencanaan untuk berwiraswasta. "Mereka berani mengambil risiko dan mereka ingin menjadi besar sekaligus berjiwa sosial," ungkapnya.

ditulis oleh Yogi Gustaman / Tribunnews
Link: KOMPAS

Sunday, October 21, 2012

Tipenya warung angkringan, labanya restoran

Makanan sushi makin diminati di Indonesia . Beberapa kemitraan usaha makanan khas Jepang ini juga mulai merebak. Dengan harga jual yang jauh lebih murah, gerai-gerai hasil kemitraan usaha sushi pun laris dan menyebar di beberapa kota .

Makanan ala Jepang sudah tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia . Salah satu menu yang sudah bersahabat adalah sushi. Gerai-gerai sushi yang ada di mal sering penuh oleh konsumen penggemar makanan ini.

Antusiasme konsumen pada sushi ternyata membuat banyak waralaba restoran Jepang masuk ke Indonesia . Meski begitu, banyak juga tawaran kerja sama usaha makanan ini dari pengusaha Indonesia . Jenis usahanya bukan restoran, melainkan kelas booth dengan konsep kemitraan alias business opportunity. Misalnya, Zushioda Japanese Street Sushi dan Ikki Sushi.

Aditya Yodha, pemilik kemitraan Zushioda Japanese Street Sushi, melihat bahwa peminat masakan Jepang memang sangat besar. "Di Indonesia, melihat konsep makan sushi, banyak berasumsi ini jenis makan serius," ujar konsultan pembuat restoran Jepang yang juga berpengalaman memiliki beberapa restoran Jepang itu.

Padahal, di Jepang, ada konsep makan sushi di warung kaki lima atau dalam istilah lokasi disebut angkringan. Di Jepang, angkringan biasanya disebut yatai. Makanan yang disajikan biasanya makanan tradisional Jepang, seperti yakitori, sushi, yakiniku, agemono, oden, dan hakata ramen. Biasanya juga ada minuman seperti sake atau bir. Makanan yang dijual di yatai biasanya relatif lebih murah dibandingkan di restoran.

Setelah sukses berbisnis restoran, Aditya coba menawarkan kemitraan gerai Yatai Zushioda. Tawaran ini baru berjalan satu bulan. Namun, menurut dia, sudah ada beberapa orang yang mengajukan diri sebagai mitra. "Rata-rata dari luar Jakarta ," ujarnya. Yang sudah jalan saat ini baru satu gerai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Tawaran kemitraan sushi yang lain berasal dari PT Ikki Group, yaitu Ikki Sushi. Bisnis kemitraan ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir. Widi Mada, pemilik bisnis Ikki Sushi, menyatakan, meski baru tiga mitra bergabung dengannya, konsumen setiap gerai sushi tersebut lumayan besar. "Sehari, mitra saya bisa membeli bahan makanan sampai Rp 1 juta," ujarnya.

Sayangnya, Widi tidak tahu benar berapa omzet yang dibukukan setiap mitra. Maklum, dalam sistem kemitraan ini, ia tidak mengenakan biaya royalti. Karena itu, ia juga tidak menerima laporan berapa omzet para mitra. Tiga mitranya itu dua di antaranya berada di Jakarta , yaitu di Plaza Semanggi dan Galaxy, Bekasi, dan satu lagi di Istana Plaza , Bandung .

Satu lagi warung sushi dengan konsep booth adalah Sushi Rock n Roll. Tenesia Megariani, pemilik usaha ini, mengaku saat ini sudah mempunyai 10 mitra. "Kami sudah jalan selama dua tahun," tuturnya. Tak hanya dari jumlah mitra yang bertambah, omzet yang diraup mitra juga lumayan. Dia bilang, untuk kelas booth, rata-rata mitra mendulang omzet Rp 22 juta–Rp 30 juta per bulan. Harga jual sushinya mulai Rp 6.000-Rp 49.000 per rol.

Harga sushi yang dijual dalam kemitraan berbentuk booth ini jauh lebih murah dari kelas restoran. Widi mengatakan, harga jual sushi dari pihaknya mulai Rp 5.000 per rol. "Harga jual ke konsumen bisa ditentukan oleh si mitra sendiri lantaran mungkin mereka juga memperhitungkan ongkos kirim dan biaya lainnya," katanya.

Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Aditya, Widi mengaku harga jual sushi di Zushioda hanya Rp 12.000-Rp 20.000 per rol. Selama sebulan ini, menurut dia, pendapatan yang masuk ke mitra baru sekitar Rp 14 juta. Namun, dia memperkirakan, ke depan, omzet penjualan per bulan bisa mencapai Rp 24 juta. "Target saya, per hari satu booth bisa mendapatkan Rp 800.000," ujarnya.

Tertarik memulai bisnis makanan ini? Kami akan mengulas bagaimana mereka menawarkan pola kemitraan usaha ini.

• Yatai Zushioda

Aditya menawarkan kemitraan angkringan ala Jepang ini dengan harga Rp 38 juta. Modal awal tersebut digunakan untuk membeli booth, termasuk meja kursi, mesin pendingin, dan beberapa peralatan lain. Selain itu, masih termasuk bahan baku awal senilai Rp 2 juta.

Selain menyiapkan dana sebesar itu, Anda juga masih harus menyiapkan tempat untuk mendirikan bisnis ini. Tidak ada ukuran tempat sebab dengan konsep angkringan memang tidak membutuhkan ruang cukup besar. Namun, Aditya menyarankan letak lokasi tempat bisnis ini berdekatan dengan pusat keramaian. "Tempat yang pertama saya buka berdekatan dengan Seven Eleven. Pengunjung gerai itu juga kadang mampir ke booth saya," ujarnya.

Anda juga masih harus menyiapkan karyawan yang bertugas untuk menjaga warung. "Tiga karyawan cukup untuk sebagai pelayan, koki, dan kasir," ujarnya.

Sebelum memulai bisnis ini, Aditya juga akan memberikan pelatihan terlebih dahulu kepada para mitranya. Waktu yang dibutuhkan sekitar 14 hari. Sebab, mitra atau karyawan harus ada yang diberi pelajaran memasak sushi. Maklum, tidak semua jenis sushi bisa langsung didatangkan dari Aditya. Ada beberapa sushi yang memang harus dihasilkan fresh.

Aditya menambahkan, jika berada di luar Jakarta , mitra harus menyediakan biaya transportasi dan akomodasi untuk pelatihan. "Biaya sebesar Rp 38 juta, belum termasuk dengan akomodasi dan transportasi," katanya.

Karena pola bisnis ini adalah kemitraan, Anda tidak akan dikenai biaya royalti atau biaya manajemen. "Sistemnya memang jual putus. Hanya saja beberapa bahan makanan harus beli ke saya untuk menjaga kualitas," ujarnya.

Keuntungan bersih bisnis ini per bulan bisa mencapai 50 persen dari omzet. Beban usaha terbesar berasal dari gaji karyawan dan bahan baku . Kalau Anda menyewa lokasi, biaya itu juga lumayan membebani. Kalau bisnis ini berjalan dengan lancar dengan pendapatan per hari Rp 800.000, Aditya memperkirakan balik modal usaha ini bisa selama 5-6 bulan.

• Ikki Sushi

Satu pola kemitraan milik dari Ikki Group ini ditawarkan dengan tawaran modal sebesar Rp 80 juta. Dana itu digunakan untuk booth, beberapa peralatan, dan bahan baku awal. Bahan baku yang diberikan, menurut Widi, tidak hanya bahan baku untuk sushi. Sebab, di booth tersebut juga akan menawarkan makanan Jepang lain, seperti bento dan yakiniku.

Anda juga harus menyiapkan lokasi yang ramai pengunjung. Dari pengalaman Widi, ada mitranya yang mendirikan di perumahan dan warungnya cukup sukses. Selain membuka di perumahan, ada juga yang membuka di mal.

Selain menyiapkan tempat, Anda juga harus menyediakan karyawan. "Kami akan kasih koki juga karena tidak semua sushi bisa kami pasok," tutur Widi. Namun, ada beberapa bahan makanan yang bisa dipasok dalam keadaan beku dan di warung tinggal menggoreng.

Untung bersih dari bisnis ini, menurut Widi, bisa mencapai 40-50 persen. Adapun masa balik modal bisa mencapai 1,5-2 tahun.

• Sushi Rock n Roll

Tenesia menawarkan lima pola kemitraan. Pola kemitraan booth dengan nilai investasi Rp 65 juta, tipecounter island dengan nilai investasi Rp 95 juta, tipe sushi bar dengan nilai investasi Rp 140 juta, tipe resto dengan nilai investasi Rp 300 juta, dan big resto dengan modal Rp 500 juta. Dengan dana sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan konter, seperti chiller sushi, freezer, kulkas, danrice cooker, sesuai dengan tipe konter. Selain itu, Tenesia akan melakukan supervisi setiap tiga bulan sekali dalam lima bulan.

Mitra juga akan mendapatkan pelatihan selama dua minggu sampai sebulan. Pelatihan tersebut di antaranya untuk memasak dan manajemen. Tenesia menjamin rasa dari sushi yang akan disajikan tidak akan jauh berubah kalau sudah mengikuti standar operasional prosedur (SOP). "Sudah ada takarannya kalau tidak lepas dari itu, saya rasa rasanya tidak akan jauh berbeda," tegasnya.

Lokasi yang dianjurkan untuk membuka usaha ini, menurut Tenesia, harus di tempat yang ramai dan sesuai dengan tipe dari konter yang diinginkan. Kalau tipe booth, misalnya, ia menyarankan untuk membuka di food court, sekolah, kampus, sport centre, dan tempat rekreasi. "Karena tipe ini untuk food court, kami tidak menyediakan meja kursi untuk para pelanggan," ujarnya.

Tenesia mengatakan, Anda juga harus menyiapkan tempat usaha dan izin usaha. "Biasanya biaya untuk izin usaha rata-rata Rp 2,5 juta untuk tipe resto," ujarnya. Rata-rata margin bersih yang dihasilkan bisa 30-40 persen. Adapun masa balik modal tergantung dari tipe konter. "Kalau tipe boothsekitar sembilan bulan," ujarnya. Kalau lainnya, seperti counter island, bisa sampai delapan bulan atau lebih

ditulis oleh Avanty Nurdian / Kontan
Link: KONTAN

Bisnis Ayam Potong Bebas Formalin Ala Bang Nojeng

Memperoleh makanan yang sehat dan halal merupakan sebuah tuntutan dan kebutuhan bagi masyarat. Namun, masih saja ditemukan pedagang nakal yang menjual makanan yang menggunakan bahan pengawet berbahaya seperti ayam berformalin atau ayam suntik.


Melihat kondisi tersebut, Suparno atau yang akrab disapa Bang Nojeng akhirnya tergerak menjual ayam potong "ASUH" atau kependekan dari aman, sehat, utuh dan halal untuk dikonsumsi.


"Berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ayam beredar di masyarakat itu masih ditemukan menggunakan bahan pengawet macem-macem. Saya ingin membuat pemotongan yang menjawab, saya tidak pakai formalin pun bisa," kata Bang Nojeng kepada detikFinance di JCC Senayan Jakarta , Kamis (13/9/2012).


Bang Nojeng yang berangkat dari usaha pemotongan ayam rumahan sejak 1983 kemudian memutuskan merubah konsep usahanya sejak 20 Desember 2011 dengan menjual ayam potong segar dengan proses pendinginan berkualitas pabrikan namun harga ekonomis. "Kita kemas dengan kemasan yang baik, saya tidak mau kalah dengan kemasan pabrikan," imbuhnya.


Keunggulan ayam potong Bang Nojeng yang telah dijual pada 24 outlet di Jakarta ini memiliki rasa berbeda dibandingkan dengan ayam potong yang dijual di pasar.


"Kalau menggunakan es itu menutup pori-pori, protein-protein hewani yang itu tidak keluar padahal protein dari ayam yang baru dipotong itu pori-pori terbuka sehingga disitu bisa terkontaminasi bau-bau tapi kalau kita betul-betul jatuh kelantai saja tidak pernah," tambahnya.


Berkat kerja kerasnya, Bang Nojeng saat ini bisa memasok kebutuhan ayam segar untuk resotran dan konsumen kelas menengah atas di wilayah Jakarta hingga mencapai 3 ton per hari. Namun pencapaian yang diperoleh Bang Nojeng tidak berhenti disitu, ia ingin memperkenalkan konsep ayam sehat dan segar dengan harga ekonomis di pasar tradisonal. "Kami tak mengambil untung banyak tapi jual banyak dan memperkenalkan stand di setiap pasar tradisonal," tutupnya.


Apakah anda tertarik memesan atau ingin tahu lebih dalam mengenai produk daging ayam SEHAT ala Bang Nojeng. Anda bisa datang ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jalan Rawa Kepiting, kawasan industri Pulogadung Jakarta Timur atau mengujungi website: www.ayamasuhbangnojeng.com

ditulis oleh Feby Dwi Sutianto
Link: DETIK

Si Manis di Balik BonChon

Michelle E. Surjaputra. Itulah namanya. Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, gadis muda nan manis ini sudah punya bisnis yang lumayan bagus: restoran cepat saji asal Korea , BonChon Chicken.

Inspirasi mengembangkan bisnis ini diperolehnya saat menempuh studi di Amerika Serikat. “Saat kuliah, setidaknya saya dua kali sebulan nongkrong di BonChon. Di New York ada sekitar tujuh gerai BonChon,” ujar kelahiran Jakarta 15 November 1988 yang lulusan New York University- Leonard N. Stern School of Business ini.

Namun, Michelle tak langsung membawa BonChon. Sekembalinya ke Indonesia , dia sempat magang di perusahaan ayahnya. Juga, pernah magang di AXA Advisory, Bank Indonesia dan UBS. Ide BonChon baru muncul saat mengunjungi mal-mal di Jakarta . “Saya pikir, kenapa tidak saya bawa BonChon ke Indonesia ? Apalagi, di Indonesia sedang tren yang serba Korea dan orang Indonesia suka makan ayam,” kata Michelle mengenang.

Awalnya, dia agak grogi berbisnis karena tak punya pengalaman sama sekali dengan waralaba. Lantas, mengapa tak bergabung dengan bisnis orang tua? “Bisnis orang tua bidang manufaktur metal. Itu bukan bidang saya. Saya lebih suka industri gaya hidup,” ungkapnya.

Mantap dengan pilihannya, dia pun mencoba memberanikan diri menulis minat bekerja sama yang dikirimkan ke pihak BonChon Chicken melalui website. Apa respons mereka? Rupanya, menurut GM-nya, BonChon sudah sering menerima tawaran permohonan master franchiseuntuk di Indonesia . “Tetapi, saya diberi kesempatan membuat business plan,” katanya. Beruntung, Michelle sangat terbiasa membuatbusiness plan, sehingga dia bisa membuat setebal 50 halaman hanya dalam tiga hari. “Mereka terkesan dengan proposal saya,” dia mengenang.

Akhirnya, segalanya berlangsung cepat dan seperti sebuah keajaiban. Begitulah kesan Michelle. Agustus 2011, dia memasukkan proposal, Oktober sudah diminta ikut pelatihan, bulan November keluar izin, dan di bulan Januari 2012 gerai pertama BonChon di Jakarta dia buka. Cukup cepat. Gerai pertama BonChon Chicken dibuka di Grand Indonesia di bawah naungan PT Michelindo Food International sebagai pemegang master franchise BonChon Chicken untuk Indonesia .

Setelah itu, Michelle bergerak cepat. Bersama kawan-kawannya yang bertindak sebagai investor, dia segera beraksi. “Saya dan beberapa teman. Tetapi, tak sampai lima orang,” katanya. Bermula dari Grand Indonesia, BonChon kini berjumlah tujuh gerai yang tersebar di mal-mal kelas atas seperti City Walk Sudirman, Living World Alam Sutera, Supermal Karawaci, Gandaria City, Central Park dan Kota Kasablanka. Setelah itu, akan segera menyusul gerai di Kemang Village dan Beachwalk Bali.

Menyasar segmen pelanggan kelas A dan B, Michelle menjelaskan, keunikan BonChon terletak pada kesegaran bahan makanannya, termasuk dapur. “Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam,” ujarnya penuh bangga.

Menurut Utomo Njoto, pengamat waralaba, kalau BonChon ingin kian membesar, akan lebih cocok bermain di segmen menengah ketimbang di segmen A. “Penetrasi mereka cukup cepat. Tidak mudah untuk secara konsisten buka satu gerai per bulan,” katanya. Namun untuk menjadi bisnis yang solid, Utomo menyarankan Michelle lebih memperkuat dari sisi organisasi dan tim, apalagi bila hendak menjalankan sub-franchising. “Butuh kemampuan sistem, infrastruktur organisasi dan pembiayaan,” ujar Utomo.

Saran Utomo sangat mengena. Bagi Michelle, tantangan terbesar untuk mengembangkan bisnisnya adalah bagaimana memastikan BonChon Indonesia bisa mengikuti standar BonChon internasional. Dia ingin menjadikan BonChon Indonesia sebagai BonChon terbaik di dunia. Untuk itulah, dia intens terlibat dalam operasional perusahaan. Dia selalu rapat setiap pagi di kantor dan setiap gerai dia datangi setidaknya dua kali dalam sebulan. Michelle berencana akan terus berekspansi dan setiap bulan membuka satu gerai baru.

ditulis oleh Sudarmadi/Denoan Rinaldi
Link: SWA

Kisah Sukses Refresho Berawal dari Ampas Kopi

Berbeda dari kedai kopi lainnya, Refresho coffee shop tidak hanya menyajikan aneka macam menu minuman kopi bagi para konsumennya, namun juga melengkapi interior bangunannya dengan beragam jenis perabot rumah tangga yang terbuat dari limbah atau ampas kopi.

Dirintis pada bulan April 2010 silam, awalnya Sasang Priyo Sanyoto (sang owner) menekuni bisnis kerajinan yangsemuanya diproduksi dari limbah atau ampas kopi. Namun seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen, sekarang ini Sasang tidak hanya memproduksi aneka macam kerajinan dari limbah kopi saja. Tetapi Ia juga mulai membuka bisnis kedai kopi dengan beragam menu andalan yang banyak digemari para pelanggan.

Mengambil ide bisnis dari tradisi “nyenthe” kebiasaan masyarakat Jawa Timur yang sering mengoleskan endapan kopi pada sebatang rokok untuk mendapatkan sensasi rasa baru. Sasang mencoba melakukan sedikit inovasi, dengan mengaplikasikan tradisi nyenthe pada barang perabot rumah tangga yang ada di sekitarnya. Sebut saja seperti piring, gelas, kap lampu, dan lain sebagainya. Tak disangka-sangka inovasi tersebut diminati banyak konsumen, sehingga Sasang mulai tertarik memasarkan kreasi kerajinan limbah kopi dengan mengangkat Centhe Merchandise sebagai brand produk yang Ia usung.

Mulai Merintis Bisnis Kedai Kopi

Melihat respon pasar yang cukup bagus, bapak satu anak ini memberanikan diri untuk melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka usaha kedai kopi. Mengambil nama Refresho yang merupakan gabungan kata “refresh” dan “ Indonesia ”, Sasang ingin menjadikan kedai kopinya sebagai media refreshing bagi seluruh masyarakat Indonesia . Bermodalkan uang sebesar Rp 30 juta, Sasang membangun kedai kopi Refresho dengan konsep sederhana namun bersahabat, disesuaikan dengan jargon andalannya yakni “lebih kecil, lebih sederhana, dan lebih bersahabat”. Dimana kedai kopi tersebut sengaja menggunakan konsep sederhana agar bisa dijangkau semua kalangan konsumen, serta senantiasa memberikan pelayanan hangat dan bersahabat bagi setiap pelanggaan yang datang ke kedai kopinya. 

Memiliki menu andalan seperti misalnya continental coffe, gingseng coffe, ginger coffe, kopi godhog, fruit coffee (kopi rasa buah), serta coffee late dengan hiasanlatte art yang menawan. Kedai kopi Refresho yang berlokasi di Sidoarjo ini dikunjungi sedikitnya 200 orang tamu setiap harinya. Tidak heran bila omset sekitar Rp 600.000,00 sampai Rp 1.000.000,00 per hari bisa dikantongi pengusaha sukses ini, bahkan angka tersebut bisa melonjak hingga dua kali lipatnya ketika memasuki hari libur atau akhir pekan (sabtu dan minggu).

Berkat kreativitas Sasang Priyo Sanyoto dalam menggabungkan kreasi kerajinan limbah atau ampas kopi dengan konsep bisnis kedai kopi yang Ia bangun, kini omset puluhan juta rupiah bisa masuk ke kantong Sasang setiap bulannya. Tidak hanya itu saja, sekarang ini bisnis kedai kopi Refresho telah berkembang menjadi bisnis kemitraan dan telah tersebar hingga Daerah Tulungagung, Padang , serta Makassar .

Semoga kisah sukses Refresho berawal dari ampas kopi ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk terus berkreasi dan berinovasi menciptakan peluang-peluang bisnis yang menjanjikan keuntungan cukup besar. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Link : Bisnis UKM

Bisnis Kripik Pisang ini mendunia


Vivanews. Semenjak produk dengan brand Roemah Snack Mekarsari semakin terkenal, Ida Widyastuti mulai mendapatkan penawaran-penawaran dan ajakan dari berbagai kementerian untuk diajak pameran ke luar negeri. "Ketika saya berjalan ke luar negeri, saya melihat bagaimana pasar Indonesia sangatlah besar," ujarnya kepada VIVAnews.
Saat ini, Ida mengaku bahwa banyak negara lain yang mencoba untuk merebut pasar Indonesia . Dengan lesunya India dan menurunnya konsumsi di China , dirinya menyatakan Indonesia semakin menjadi tujuan utama perusahaan-perusahaan luar negeri.

Apalagi dengan pertumbuhan kaum menengah yang sangat pesat, dia yakin, jika usahanya akan semakin diminati konsumen domestik.
Untuk menanggapi hal itu, Ida tidak tinggal diam. Ia pun mulai memasukkan barang dagangannya ke ritel-ritel besar yang ada di seluruh Indonesia . "Saat ini sedang dalam proses, mungkin bulan depan produk kita sudah mulai masuk ke ritel tersebut,” ujar Ida.

Selain mengurusi pasar tradisional dan ritel, Ida juga memulai ekspansinya keluar negeri. Tercatat, saat ini ia telah mengekspor produknya ke Turki , China , Malaysia , Filipina, dan Singapura.

Ida mengaku miris, selama perjalannya ke luar negeri, dirinya melihat di Asia Tenggara saja, camilan dari Indonesia tidak sampai dua persen dari keseluruhan camilan yang ada. "Padahal, saya yakin dengan rasa dan kualitas camilan kita," ujarnya. Keyakinan Ida disambut dengan baik oleh pasar, ternyata banyak pihak asing yang menyukai produknya. 

Untuk itu, Ida saat ini, telah mempersiapkan pembangunan pabrik barunya di Sidoarjo untuk melayani kebutuhan ekspor. Pabrik barunya ini akan memenuhi standar internasional untuk ekpsor, sehingga para pelanggannya percaya akan kualitas produknya.

Saat ini, ekspor yang dilakukan Ida per bulannya hanya sekitar empat kontainer per bulannya. "Jumlah ini masih sedikit, kita berharap akan semakin membaik ke depannya. Yang menjadi favorit, masih keripik pisang," kata dia.
 
Berani Ditipu
Sementara itu, usaha Ida maju bukan tanpa kendala. Sebab, i mengaku sudah sering menjadi korban penipuan. "Nilainya beragam, mulai Rp20 juta, Rp30 juta bahkan sampai Rp300 juta," ujarnya.

Namun, menurutnya, kasus yang menimpanya itu tidak dianggap sebagai halangan yang berarti bagi bisnis camilannya. "Buat saya itu jamu, walaupun pahit tapi jika diminum itu akan menyehatkan," jelasnya.

Ida menuturkan, selalu menyelesaikan semua hal dengan cara baik-baik. Tercatat, dari beberapa kali ia ditipu, dirinya selalu menemukan jalan keluar yang baik walau penggantian uangnya tidak dalam bentuk uang.

Ia mengatakan, dirinya tidak pernah berpikiran negatif atas apa yang terjadi padanya. Mungkin, itulah yang menjadi rahasia kesuksesannya selama ini. Dengan selalu berfikir positif, menurut Ida, maka jalan akan terbuka.

Untuk memilih distributor pun, Ida berani mengambil resiko. Ibu dua anak ini mengaku, seseoran memang tidak bisa dinilai dari pertemuan pertama, namun kadang harus ada beberapa risiko yang diambil.

Ida mencontohkan, ketika ia memercayakan produknya senilai Rp200 juta kepada empat orang distributor di kota yang sama. Dan masing-masing mendapatkan Rp50- juta.

Dengan angka ini, ia sudah memperkirakan hanya akan ada dua distributor yang baik dan sisanya akan membuat dirinya rugi. "Tapi kan , kerugian dari dua orang itu akan diganti dengan profit oleh dua orang lainnya dalam 4-5 bulan ke depan," ujarnya. Hal inilah, yang menurut Ida, tidak dipunyai oleh orang  lain yang seringkali takut akan risiko.

Saat ini, Ida Roemah Snack Mekarsari sudah mempunyai 160 karyawan dari mulai proses produksi dan distribusi. Ia mengaharapkan, jumlah ini akan bertambah seiring dengan terwujudnya pabrik barunya di Sidoarjo, Jawa Timur.

ditulis oleh Antique, Alfin Tofler
Link : VIVA